Yamko Rambe Yamko

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Diproduksi oleh Wikimedia Indonesia menggunakan melodi populer, tidak dinyanyikan secara tradisional.

Yamko Rambe Yamko adalah suatu lagu daerah yang berasal dari Lembah Grime, yang merupakan wilayah lembah berpenduduk di Kabupaten Jayapura, khususnya merupakan iringan dari tradisi permainan Kasep (Kaseb, Kseep) milik rumpun tiga suku di Lembah Grime, yakni Namblong, Gresi, dan Kemtuk.[1]

Pada tahun 1991, lagu Yamko Rambe Yamko ini dialbumkan bersama dengan lagu-lagu daerah khas Indonesia lainnya oleh Tjoek Soeparlan dalam rilisan albumnya yang berjudul "Instrumentalia Indonesian Bamboo Music Angklung Part 3".

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan penjelasan Yan Petrus Tegai (seniman Lembah Grime) dalam webinar Papua Language Institute (PLI) pada tanggal 18 Juli 2020 bersama Hengky Arisoy (komposer lagu etnik Papua), Paul Yam (antropolog, koreografer), Robby Kbarek (pemerhati budaya, musisi senior Papua), Hosea Mirino (seniman senior Papua), serta Jimmy Yaung (Ondoafi Sarmay-Namlong); Lagu Yamko Rambe Yamko sejatinya merupakan tradisi tiga suku pribumi yang berasal dari Lembah Grime, lagu ini menggunakan campuran dari tiga bahasa dalam rumpun Nimboran yang terdiri dari bahasa Namblong, bahasa Klesi, dan bahasa Kemtuk.[2]

Lagu sakral ini digunakan sebagai iringan setelah lagu pembukaan yang dalam ritual permainan kasep. Kasep sendiri merupakan roh-roh dan merupakan kepercayaan asli masyarakat lokal (animisme) Lembah Grime, karena itu beberapa kata yang digunakan ini tidak serta merta diajarkan ke semua orang. Seperti penjelasan Robby Pangurian Kbarek, yang mewawancarai salah satu praktisi Kasep yang masih hidup berusia 90 tahun pada tahun 2021, para praktisi Kasep hanya mewarisi kepada keturunan tertentu.[3] Lagu ini bisa dianggap sebagai lagu penyembahan, seperti untuk mengundang roh nenek moyang yang sudah mati untuk merasuki pemimpin Kasep.[2]

Lirik[sunting | sunting sumber]

Hee Yamko Rambe Yamko
Aronawa kombe
Hee Yamko Rambe Yamko
Aronawa Kombe
Temino Kibe Kubano Ko Bombe Ko
Yuma No Bungo Awe Ade

Temino Kibe Kubano Ko Bombe Ko
Yuma No Bungo Awe Ade
Hongke Hongke, Hongke Riro
Hongke Jombe, Jombe Riro
Hongke Hongke, Hongke Riro
Hongke Jombe, Jombe Riro

Penjelasan lirik[sunting | sunting sumber]

Penjelasan lirik berikut berasal dari Robby Kbarek[3] dan Yan Petrus Tegai.[2]

Hee Yamko Rambe Yamko
  • Kata Hee disini berarti Hey! merupakan kata sapaan umum dalam bahasa Klesi, bahasa Namblong, dan bahasa Kemtuk untuk meminta perhatian.
  • Kata Yamko disini berarti "berhenti sudah!" ditunjukan kepada penonton untuk tenang karena permainan mau dimulai. (bahasa Namblong)
  • Kata Rambe berarti "(ini) hanya permainan" mengacu pada permainan Kasep. (bahasa Klesi dan Namblong)
Aronawa Kombe

Kalimat ini diucapkan ketika roh kasep sudah merasuki dari pemimpin permainan.

  • Kata Aronawa tidak dikenal oleh masyarakat lokal dan merupakan perubahan dari Agonawa (bahasa Kemtuk).
  • Agonawa Kombe ini berarti artinya "Ini ibu-ku dan juga ibu-mu", ibu disini bisa berarti personifikasi tanah Papua.
Temino Kibe Kubano Ko Bombe Ko
  • Kata Temino Kibe tidak dikenal masyarakat lokal dan merupakan perubahan dari Temne Inokkibe (bahasa Klesi), berarti "gendong gadis kecil itu". Gadis kecil yang dimaksudkan bukan manusia tetapi boneka yang digunakan sebagai media untuk roh Kasep.
  • kata Ku menjelaskan waktu saat itu. Berarti harafiah di bawah. Kata Banoko berarti terang bulan (bahasa Klesi dan Namblong). Selain itu juga merupakan nama asli desa Braso yaitu Yakna-Kubanu (dibawah bulan)-Blobanu (diatas bulan).[4]
  • Ku Banu ko Bombe Ko, bisa diartikan "karena bulan sudah mau terbenam". Permainan Kasep ini biasa dilakukan pada malam hari saat bulan sudah mau terbenam menjelang pagi.
Yuma No Bungo Awe Ade
  • Kata Yuma merupakan ajakan "Ayo!", atau Yu Ma digunakan untuk ancang ancang dimana Ma berarti kekuatan gaib yang diberikan.
  • Kata No merupakan nama satu tempat sakral bersejarah di Distrik Namblong.
  • Kata Awe merupakan nama tradisional (nama tanah) seseorang.
  • Kata Ade tidak dikenal oleh masyarakat lokal dan merupakan perubahan dari Adey yang artinya "bersama saya"
  • Sehingga berarti "Ayo pergi ke No, sudah ditunggu, Awe dan saya".
Hongke Hongke, Hongke Riro
Hongke Jombe, Jombe Riro
  • Kata Hongke tidak dikenal masyarakat lokal dan merupakan perubahan dari Hank' e, yang merupakan ungkapan terima kasih kepada "sayang e", ditujukan kepada roh Kasep yang sudah memberikan berkat atau sesuatu yang diminta
  • Kata Riro tidak dikenal masyarakat lokal dan merupakan perubahan kata dari Lido, yang artinya datangkanlah mengacu pada berkat yang diminta.
  • Kata Jombe berarti "milik kita".
  • Bait ini berarti untuk meminta berkat (atau hal lain) kepada roh Kasep yang sudah dipanggil. "Sayang, sayang, sayang, datangkanlah (berkat), sayang milik kita, milik kita datangkanlah".

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Asal usul lagu ini diperdebatkan. Pada akhir Juni 2020, perdebatan tersebut viral di media sosial karena dugaan bahasa dalam lagu ini bukan berasal dari salah satu bahasa di Papua. Bahkan lagu tersebut diklaim oleh beberapa orang seperti Nomensen Mambraku dan Simon Patrice Morin merupakan modifikasi lagu Afrika yang disematkan kepada Papua dan diperkenalkan pertama kali oleh pemerintah Indonesia saat Irian Barat baru saja diserahkan dari UNTEA.[5] Penelusuran asal usul lagu ini disuarakan, termasuk di antaranya oleh pelawak Arie Kriting.[6] Sedangkan menurut Robby Kbarek, diduga lagu ini merupakan lagu yang digunakan oleh para warga Lembah Grime pekerja Koperasi Yawa Datum pada tahun 1950-an untuk meminta kekuatan gaib dalam bekerja, kebetulan beberapa ahli perkebunan yang dipekerjakan berasal dari Jawa yang berinteraksi langsung dengan penduduk lokal, sehingga kemungkinan mereka kemudian membawa lagu tersebut (dengan beberapa kesalahan pengucapan dan melodi baru) ke Jawa.[3] Namun menurut Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua pada 27 Juni 2020 mengatakan belum ada literatur pasti soal asal bahasa lagu ini.[7]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

  • Apuse — lagu rakyat Papua asal Teluk Wondama
  • Sajojo — tarian dan lagu rakyat Papua etnis Moi asal Sorong