Masjid Kali Pasir

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Masjid Kali Pasir adalah masjid tertua di Kota Tangerang peninggalan Kerajaan Pajajaran.[1] Masjid ini berada di sebelah timur bantaran Sungai Cisadane, tepatnya di tengah pemukiman warga Tionghoa kelurahan Sukasari.[1] Bangunannya pun bercorak Tionghoa.[1] Masjid tertua di Tangerang ini mencerminkan kerukunan umat beragama pada masanya.[1] Hingga kini masjid yang sudah berusia ratusan tahun tersebut masih digunakan sebagai tempat beribadah.[1] Namun, masjid ini tidak lagi digunakan untuk salat Jumat.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masjid Kali Pasir dibangun bersebelahan dengan Klenteng Boen Tek Bio yang saat itu sudah berdiri tegak.[3] Masjid yang berukuran sekitar 288 meter persegi ini didirikan pada tahun 1700 oleh Tumenggung Pamit Wijaya yang berasal dari Kahuripan Bogor.[4][3] Awalanya, Tumenggung Pamit Wijaya ingin melakukan syiar Islam dari Kesultanan Cirebon ke wilayah Banten.[3] Namun, ia singgah di Tangerang dan mendirikan sebuah masjid.[3] Pembangunan masjid dilakukan oleh warga muslim sekitar dan dibantu oleh warga Tionghoa.[5] Pada tahun 1712 kepengurusan masjid dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Bagus Uning Wiradilaga.[4] Masjid ini sudah berkali-kali direnovasi, tetapi bangunannya masih bergaya Arab, Tionghoa dan Eropa.[5] Saat ini, hanya dua sisi arsitektur yang masih tetap utuh dipertahankan, yaitu empat tiang di dalam masjid dan kubah kecil bermotif China.[3] Tiang tersebut terbuat dari kayu dan tampak mulai keropos sehingga harus disanggah dengan sejumlah besi.[3]

Keunikan[sunting | sunting sumber]

Selain menjadi tempat ibadah dan syiar agama, Masjid Kali Pasir memiliki nilai sejarah yang tinggi.[2] Masjid ini menjadi tempat akulturasi budaya dan saksi perjuangan anak bangsa melawan penjajah.[2] Selain itu, dari segi bangunan, menara masjid ini mirip dengan pagoda Tiongkok.[5] Ada juga acara arakan minitur perahu yang digelar oleh masjid ini dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad.[6] Arakan perahu dilakukan sebagai simbol tibanya para sesepuh Islam di Sungai Cisadane Kota Tangerang.[6] Arakan tersebut dimulai sejak tahun 1926 dengan mengisi perahu dengan berbagai buah-buahan.[6] Hal unik lain adalah bentuk saf yang miring dibandingkan dengan arah masjid.[6] Bentuk saf tersebut ada sejak awal pendirian masjid.[6] Hal ini dikarenakan jika masjid dibangun sesuai arah kiblat maka rumah di sekitar masjid akan terbongkar.[6]

Makam di pelataran masjid[sunting | sunting sumber]

Di belakang masjid ini terdapat makam Bupati Tangerang, Raden H Ahmad Penna.[1] Akan tetapi, keberadaan makam tokoh Tangerang ini tidak banyak diketahui masyarakat umum.[1] Selain itu, keberadaan makam juga kurang terawat dengan baik.[1]

Galeri[sunting | sunting sumber]

  • Bagian belakang masjid

    Bagian belakang masjid

Referensi[sunting | sunting sumber]