Kelompok Etnis/Suku Bangsa di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bolaang Mongondow Raya ( diantaranya kabupaten bolaang mongondow, bolaang mongondow timur, bolaang mongondow utara, bolaang mongondow selatan, dan kotamobagu ). adalah rumah tempat perkumpulan berbagai suku bangsa yang tinggal didalamnya dan telah menjalin kehidupan saling menghormati dan toleransi antar umat beragama telah tercipta sejak lama. Selain Suku Bolaang mongondow yang merupakan Suku asli dan mayoritas, juga terdapat Suku suku luar yang datang merantau dan menetap di Bolaang mongondow diantaranya seperti Suku Minahasa, Suku Sangir, Suku Gorontalo, Suku Bali dan Lainnya. Mereka telah didatangkan sejak Pemerintahan Kolonial Belanda dan Sejak Awal Kemerdekaan Indonesia.

Berikut Daftar Kelompok Etnis Pendatang di Bolaang Mongondow :

Migrasi dan Kedatangan Suku Minahasa[sunting | sunting sumber]

Transmigrasi Lokal Sejak Hindia Belanda[sunting | sunting sumber]

Suku Minahasa Terbagi Menjadi Beberapa Etnis seperti Tontemboan ,Tombulu ,Tonsawang ,Tondano ,Pasan, Ponosakan dan Bantik. Merupakan Kelompok Suku yang Melakukan Perantauan dan Transmigrasi Dimasa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda Mereka datang dan Menetap Karena adanya Beberapa Faktor Salah Satunya Faktor Perang yang Membuat Mereka Pindah. Daerah di Bolaang Mongondow dengan Jumlah Populasi Suku Minahasa yang Signifikan diantaranya Seperti Wilayah Dumoga, Poigar, Passi Timur, Sekitaran Danau Mooat Boltim, Kelurahan Tumubui Kotamobagu, dll.

Kedatangan Orang - Orang Minahasa[sunting | sunting sumber]

1. Gelombang Kelompok Etnis Tombulu[sunting | sunting sumber]

Pada Pertengahan Abad Ke 19 Sekelompok Etnis Tombulu yang Berasal dari Tombariri Kabupaten Minahasa bermigrasi Ke Wilayah Pesisir Pantai Bolaang Mongondow Kemudian Mendirikan Desa Mariri Lama yang Terus Bertumbuh dan Kemudian Mendirikan Lagi Desa Mariri Baru. Selanjutnya Pada Tahun 1970 Kelompok Masyarakat yang Berasal dari Desa Woloan Kabupaten Minahasa Bermigrasi ke bagian Pegunungan Bolaang Mongondow ( Daerah Dumoga ) dan Kemudian Mendirikan Desa Kosio yang Saat Ini telah Mengalami Beberapa Pemekaran Desa.

2. Gelombang Kelompok Etnis Tontemboan[sunting | sunting sumber]

Kelompok Etnis Tontemboan Minahasa adalah Kelompok yang Kebanyakan Berasal dari Kawangkoan, Sonder, Tompaso, dan Lainnya. Sekitar Abad Ke 19 dan Abad Ke 20 Masyarakat Minahasa yang Berasal dari Kawangkoan dan Sonder kemudian Bermigrasi Ke Daerah Pengunungan Bolmong dekat Perbatasan Sungai Poigar yang Saat Ini adalah Kecamatan Passi Timur. Mereka Mendirikan dan membangun Desa Poopo. Sedangkan Masyarakat TouKawangkoan, TouSonder, dan TouRemboken Kemudian Mendirikan Desa Sinsingon. Pertumbuhan yang Pesat Membuat Desa Poopo Memekarkan Desa Manembo. Sedangkan Desa Sinsingon Kemudian Memekarkan Desa Mobuya yang Merupakan Desa Campuran TouKawangkoan, TouSonder, dan TouKakas. Pengaruh yang Kuat dari Masyarakat Minahasa Membuat Perkembangan Pesat Penduduk Terus Bertambah. Selain Itu Etnis Tontemboan Tersebar luas di Wilayah Dumoga

3. Gelombang Kelompok Etnis Tondano[sunting | sunting sumber]

Etnis Tondano Atau Toulour Melakukan Program Transmigrasi Lokal Dikarenakan Menyempitnya Lahan Pertanian di Kakas, Remboken, dan Tondano Mendorong Mereka Sebagian Masyarakat Memutuskan Untuk Pindah. Pada Program Tersebut Terdapat 2 Wilayah yang Akan diPilih Masyarakat untuk ditinggali yaitu Wilayah Modoinding dan Wilayah Dumoga. Sebagian Penduduk Kakas dan Remboken Kemudian Bermukim di Modoinding dan Mendirikan Desa Wulurmaatus, Palelon, Sinisir, Makaaroyen, Pinasungkulan dan Lainnya. Sebagian Penduduk Lagi Penduduk Kakas dan Tondano Bermukim di Dumoga dan Mendirikan Desa Mogoyunggung, Uuwan, Ponompiaan, Tonom dan Tambun. Pada Tahun 1970an Masyarakat yang Berasal dari Desa Parepei/Remboken dan Desa Kanonang/Remboken Kemudian Pindah dan Mendirikan Desa Dondomon. Masyarakat TouKakas dan TouRemboken Kemudian Mendirikan Pemukiman di Hulu Sungai Poigar Atau Sekitaran Danau Mooat Desa Bongkudai Baru dan Guaan.

Migrasi Suku Sangir dan Sitaro[sunting | sunting sumber]

Didatangkan Karena Erupsi Letusan Gunung Awu dan Gunung Karangetang[sunting | sunting sumber]

Selain Suku terdapat juga Suku Sangir Mereka Melakukan Migrasi Karena Adanya Letusan Gunung Awu di Pulau Sangihe dan Gunung Karangetang di Pulau Siau.Pasca Letusan Tersebut Mereka Kemudian didatangkan Ke Bolaang Mongondow. Daerah dengan jumlah Populasi yang signifikan diantaranya adalah Desa Dodap, Dodap Pantai dan Jiko dan Jikobelanga di Bolaang Mongondow Timur. Desa Dumagin di Bolaang Mongondow Selatan. Desa Mokoditek dan Bohabak di Bolaang Mongondow Utara, dan Lainnya.

Migrasi Suku Bali[sunting | sunting sumber]

Erupsi Gunung Agung[sunting | sunting sumber]

Sama Halnya dengan Masyarakat Sangir, Masyarakat Suku Bali yang tinggal di Bolaang Mongondow bermigrasi karena Letusan Gunung Agung Pada Tahun 1963. Ketika Letusan Mereka Kemudian dibawa dan Berlabuh di Pantai Pelabuhan Makasar Selanjutnya Mereka Kemudian dibawa ke Wilayah Dumoga Bolmong dan Menetap disana Awal Mereka Hanya Tinggal di 1 desa Yaitu desa Kembang Mertha Namun Jumlah Populasi Yang terus Berkembang Membuat Mereka Kemudian Mendirikan Beberapa Desa. Desa Desa di Dumoga dengan jumlah Populasi yang Signifikan diantaranya adalah Desa Mopuya, Mopugad, Amertha Sari, Amertha Buana, Ibolian, Werdhy Agung, dan Lainnya.

Kedatangan Suku Gorontalo dari Selatan[sunting | sunting sumber]

Suku Gorontalo Datang Ke Bolaang Mongondow dengan Melalui Jalur Pesisir Pantai di Selatan Bahkan Ada juga yang Masuk Melalui Bagian Utara.Daerah Dengan Populasi Yang Signifikan Berasa di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.