Hidayatullah II dari Banjar

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Hidayatullah IIBerkuasaPenobatanPendahuluPenerusBerkuasaPenobatanKelahiranKematianPemakamanWangsaAyahIbuPasanganAnakAgama

Lukisan Sultan Hidayatullah II di Museum Lambung Mangkurat

September 1859 – 2 Maret 1862
September 1859 di Banua Lima
Tamjidullah II
Panembahan Amiruddin
9 Oktober 1856 – 5 Februari 1860
9 Oktober 1856
Gusti Andarun
1822
Martapura, Kesultanan Banjar
24 November 1904 (umur 81–82)
Cianjur, Karesidenan Parahyangan, Hindia Belanda

Sawah Gede, Cianjur

Wangsa Banjar
Tuan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Hidayatullah Halil illah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman[1]
Sultan Muda Abdur Rahman
Ratu Siti Mariama binti Nyai Intan binti Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari)[2][3]/Nyai Intan adalah istri Goesti Koesin Pangeran Husin bergelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata

1 ♀ Permaisuri Ratu Mas Bandara

2 ♀ Ratu Mas Ratna Kediri

3 ♀ Ratu Siti Aer Mas (Goestie Sitie Ayer Maas) binti Pangeran Tahhmid bin Sultan Sulaiman dari Banjar

4 ♀ Nyai Arpiah

5 ♀ Nyai Rahamah

6 ♀ Nyai Umpay

7 ♀ Nyai Putih

8 ♀ Nyai Jamedah

9 ♀ Nyai Ampit

10 ♀ Nyai Semarang

11 ♀ Nyai Noerain

12 ♀ Nyai Ratoe Etjeuh Zuriat Wira Tanu I Raden Aria Wiratanu Datar atau Eyang Dalem Cikundul, Murid Sunan Gunung Jati[4][5]

1 ♂ Pangeran Sasra Kasuma/Sasra Kasuma anak Nyai Noerain lahir di Banjar

2 ♂ Pangeran Abdul Rahman anak dari Ratu Mas Ratna Kediri melahirkan Pangeran Abdul Majid

3 ♂ Gusti Muhammad Saleh anak dari Nyai Arpiah ia Menikahi Ratu Sari melahirkan Pangeran Abdul Manaf

4 ♀ Putri Bulan anak dari Ratu Siti Aer Mas menikahi ♂ Pangeran Amin bin SULTAN BANJAR ♂ Pangeran Ratu Sultan Tamjidillah II al-Watsiq Billah

5 Putri Bintang anak dari Ratu Mas Bandara menikahi ♂ Pangeran Abdul Karim bin SULTAN BANJAR Tamjidillah II melahirkan Pangeran sulaiman

6 ♀ Ratu Salamah anak dari Ratu Siti Aer Mas lahir di banjar Menikahi ♂ Pangeran Kesoema Indra bin Pangeran Kassir bin Sultan Sulaiman dari Banjar melahirkan ♂ Pangeran Mohhamad Hanafia

7 ♀ Ratu Saleha anak dari Nyai Rahamah lahir di banjar menikahi ♂ Pangeran Mohhamad Ali Bassa (Goesti Isa bin Goesti Sopie ) melahirkan ♀ Ratu Halimah

8 ♀ Ratu Sari Banun anak dari Nyai Rahamah (Gusti Serie Banun Menikahi Pangeran Muhammad Illah Wirakusuma III dari Banjar melahirkan ♂ Pangeran Abdullah berputra Pangeran Dawud

9 ♀ Ratu Ratna Wandari/Ratu Syarifah Rattena Wandarie Menikahi Pangeran Syarif Abu bakar melahirkan Pangeran Syarif abdulah,Pangeran Syarif abdurahman


Ratu Ratna Wandari/Ratu Syarifah Rattena Wandarie Menikahi pangeran Muhammad melahirkan pangeran Hanafi,Arif.

10 Pangeran Amarullah/Amrullah anak dari Nyai Ratoe Etjeuh Zuriat Wira Tanu I Raden Aria Wiratanu Datar atau Eyang Dalem Cikundul, Murid Sunan Gunung Jati melahirkan Ratu Kusuma Sari

11 Pangeran Muhammad Alibasah anak dari Nyai Ratoe Etjeuh Zuriat Wira Tanu I Raden Aria Wiratanu Datar atau Eyang Dalem Cikundul, Murid Sunan Gunung Jati

Islam Sunni

Sultan Hidayatullah II, terlahir dengan nama Gusti Andarun, dengan gelar mangkubumi Pangeran Hidayatullah kemudian bergelar Sultan Hidayatullah Halil Illah (lahir di Martapura, 1822 – meninggal di Cianjur, Jawa Barat, 24 November 1904 pada umur 82 tahun), adalah pemimpin Kesultanan Banjar yang memerintah antara tahun 1859 sampai 1862.[2][6] Ia dikenal sebagai salah seorang tokoh pemimpin Perang Banjar melawan pemerintahan Hindia Belanda.[7][8][9]

Terlahir sebagai anak dari Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam Al-Watsiq Billah, Gusti Andarun merupakan kandidat utama pewaris takhta Kesultanan Banjar untuk menggantikan kakeknya Sultan Adam, namun posisi tersebut malah diisi oleh kakak tirinya Tamjidullah II yang mendapat dukungan dari pemerintah Hindia Belanda.[10] Peristiwa ini menimbulkan perpecahan di lingkungan keluarga bangsawan Banjar dan masyarakat, dimana terdapat kubu pendukung Tamjidullah yang dekat dengan Belanda dan kubu pendukung Gusti Andarun yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah Hindia Belanda tersebut.[2] Untuk meredam ketegangan tersebut, di tahun 1856 pemerintah Hindia Belanda lalu mengangkat Gusti Andarun sebagai mangkubumi (kepala pemerintahan) Banjar dengan gelar Pangeran Hidayatullah.[11][12]

Pengangkatan tersebut ternyata tidak bisa meredakan ketegangan antara keluarga bangsawan, masyarakat, dan pemerintah Hindia Belanda. Ketegangan ini pun menjadi pemicu dimulainya Perang Banjar, dimana pada 18 April 1859, pasukan Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara Oranje-Nassau di Pengaron.[13][14] Pemerintah kolonial lalu memakzulkan Tamjidullah dan mencoba menobatkan Hidayatullah sebagai sultan, namun Hidayatullah menolak tawaran tersebut. Ia sendiri dinobatkan oleh para panglima Banjar menjadi sultan pada September 1859, dengan gelar Sultan Hidayatullah Halil Illah.[15][16]

Ia memimpin Perang Banjar sampai di tahun 1862, ketika ia dan keluarganya berhasil ditangkap oleh pihak Hindia Belanda.[17] Sultan Hidayatullah beserta keluarga dan sebagian pengikutnya lalu diasingkan ke Cianjur, dimana ia menghabiskan sisa hidupnya disana sampai ia wafat di tahun 1904.[18] Atas sikapnya yang anti-imperialis dan kepemimpinannya dalam melawan pemerintahan Hindia Belanda dalam Perang Banjar, di tahun 1999 pemerintah Republik Indonesia menganugerahkannya Bintang Mahaputera Utama.[19]

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Pangeran Hidayatullah terlahir dengan nama kelahiran Andarun. Anak-anak bangsawan Banjar yang baru lahir dan masih muda dipanggil Antung (= yang beruntung). Setelah beranjak dewasa akan dipanggil Gusti (= Tuan). Gusti Andarun lahir di Martapura di tahun 1822, dari pasangan Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam Al-Watsiq Billah dan Ratu Siti [Maryamah] binti Pangeran Mangkubumi Nata, yang juga bangsawan keraton Banjar (golongan tutus/purih raja). Nama kedua Gusti Andarun adalah Pangeran Hidayatullah. Nama Pangeran hanya boleh diberikan oleh Sultan, setelah pernikahan. Pangeran Hidayatullah mewarisi darah biru keraton Banjar (berdarah kasuma alias ningrat murni) dari kedua orangtuanya, dimana Pangeran Hidayatullah merupakan calon utama penerus kepepimpinan Kesultanan Banjar, sesuai dengan surat wasiat dari kakeknya Sultan Adam.[20] Di masa yang telah lampau terdapat seorang sultan Banjar yang bernama Hidayatullah. Untuk membedakan dengan sultan Hidayatullah yang pertama, maka Pangeran Hidayatullah Andarun ini oleh penulis sejarah Banjar disebut Pangeran Hidayatullah II. Pangeran Hidayatullah juga memiliki kekerabatan dengan keluarga ningrat Sumbawa, dimana bibi buyutnya yang bernama Putri Sarah/Laiya binti Sultan Tahmidullah I menikah dengan Dewa Masmawa Sultan Mahmud, sultan Sumbawa kesepuluh dan menurunkan sultan-sultan Sumbawa di generasi selanjutnya.[21][22]

Polemik suksesi Banjar[sunting | sunting sumber]

Sultan muda Abdurrahman awalnya merupakan putra mahkota Kesultanan Banjar, namun ia wafat lebih awal dari ayahnya Sultan Adam di tahun 1852.[23] Peristiwa ini menimbulkan polemik dalam keluarga ningrat Banjar mengenai siapa yang paling berhak menggantikan Sultan Adam. Terdapat tiga kandidat penerus takhta Banjar, yaitu Gusti Andarun, cucu Sultan Adam dari menantu permaisurinya Ratu Siti, Gusti Wayuri atau Tamjidullah II, cucu dari menantu selirnya Nyai Besar Aminah yang merupakan keturunan Dayak-Pacinan. Ia berusia lebih tua 5 tahun dari Gusti Andarun, dan Prabu Anom, anak Sultan Adam juga adik dari Abdurrahman, yang diusulkan oleh Nyai Ratu Kamala Sari, permaisuri dari Sultan Adam.[12][24]

Meski Gusti Andarun merupakan keturunan tutus atau ningrat murni, Tamjidullah lebih mendapat dukungan dari pemerintah Hindia Belanda sebagai penerus takhta Banjar dikarenakan kedekatannya dengan kalangan pejabat kolonial selama membantu Pangeran Mangkubumi Nata dalam menjalankan tugas-tugasnya.[24] Campur tangan Belanda dalam pengangkatan Sultan Banjar berawal dari status Kesultanan Banjar sendiri yang menjadi tanah perlindungan (protektorat) dari VOC-Belanda sejak 13 Agustus 1787 di masa pemerintahan sultan Nata Alam. Pemerintah Hindia Belanda lalu menetapkan Tamjidullah sebagai sultan muda baru pada 8 Agustus 1852.[11] Sultan Adam memprotes penetapan tersebut karena Tamjidullah bukan keturunan ningrat murni, namun utusan yang dikirim untuk menyampaikan protesnya tersebut tidak diterima secara resmi oleh pusat pemerintahan Hindia Belanda di Batavia. Sultan Adam pun lalu menulis surat wasiat yang menyatakan bahwa Gusti Andarun merupakan pewaris takhta Banjar yang sah dan menginginkan rakyat Banjar untuk mengangkatnya sebagai Sultan.[25]

Pada 30 April 1856, setelah mendapatkan tekanan dari pihak Hindia Belanda, Sultan Adam menyetujui pemberian konsesi tambang batu bara kepada pemerintah kolonial. Gusti Andarun sebenarnya sudah memahami bahaya yang dapat ditimbulkan dari pemberian konsesi ini, namun ia terpaksa ikut menyetujuinya karena pasukan Belanda sudah ditempatkan di berbagai pusat tambang tersebut.[26]

Diangkat sebagai mangkubumi[sunting | sunting sumber]

Untuk memulihkan keadaan di Banjar yang tidak kondusif karena diangkatnya Tamjidullah sebagai sultan muda, pemerintah Hindia Belanda mengangkat Gusti Andarun sebagai mangkubumi yang mengatur pemerintahan dari Martapura dengan gelar Pangeran Hidayatullah pada tanggal 9 Oktober 1856.[27] Pengangkatan Hidayatullah sebagai mangkubumi tertuang dalam Akte Van Beeediging Van Den Rijksbestierder Van Bandjarmasin, Pangeran Hidajat Oellah op 9 October 1856. (Besluit 4 Januari 1857 No. 41) Borneo, tertulis dalam bahasa Melayu di bawah:[28]

Pemerintahan Kesultanan Banjar Martapoera & Pemerintahan Kesultanan Banjar Bandjarmasing 3 Juni 1825 - 3 maret 1862

Setelah Sultan Adam wafat pada November 1857, pemerintah Hindia Belanda menobatkan Tamjidullah II sebagai sultan Banjar yang baru dan Banjarmasin dipilih sebagai pusat pemerintahannya,[25] dimana penobatan ini ditentang oleh rakyat Banjar. Sehari setelah penobatannya, ia menandatangani surat yang menyetujui pengasingan Belanda atas pamannya Prabu Anom ke Jawa.[24] Prabu Anom berhasil ditangkap di awal tahun 1858 dan akhirnya ia diasingkan ke Kota Bandung pada tanggal 23 Februari 1858.[29] Peristiwa pengasingan ini membuat geram Gusti Andarun dan bangsawan lainnya, serta mengakibatkan keadaan keraton Banjar tegang dan tidak kondusif. Muncul gerakan perlawanan terhadap kepemimpinan Tamjidullah yang dimulai oleh tokoh karismatik bernama Aling atau Panembahan Muning, dimana pengikut gerakan ini semakin bertambah banyak karena banyak rakyat yang tidak puas terhadap kepemimpinan Tamjidullah.[30]

Perang Banjar dimulai[sunting | sunting sumber]

Langkah Hidayatullah untuk menggantikan Sultan Adam sebagai sultan menjadi lebih terbuka pada pada Februari 1859, ketika Nyai Ratu Kamala Sari beserta puteri-puterinya menyerahkan surat kepada Pangeran Hidayat, bahwa kesultanan Banjar diwariskan kepadanya, sesuai dengan surat wasiat Sultan Adam. Sultan Adam juga mewariskan Keris Abu Gagang sebagai salah-satu regalia Banjar untuk mendukung keabsahan Hidayatullah sebagai penerus takhta Banjar.[25] Hidayatullah lalu mulai menghimpun kekuatan untuk bersiap melakukan serangan terhadap daerah-daerah yang dikuasai pemerintah kolonial seperti tambang batu bara. Pada 18 April 1859 terjadi penyerangan terhadap tambang batu bara Oranje-Nassau milik Hindia Belanda di Pengaron, yang dipimpin oleh Pangeran Antasari, Pembekal Ali Akbar, dan Mantri Temeng Yuda Panakawan atas persetujuan Hidayatulah.[13] Penyerangan ini menandai dimulainya Perang Banjar yang akan berlangsung sampai tahun 1906.[31] Setelah serangan yang dilancarkan terhadap tambang Oranje-Nassau, Hidayatullah lalu menggunakan taktik gerilya untuk menghadapi Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih canggih. Di bawah kepemimpinan Antasari, pasukan Banjar mampu menguasai seluruh Martapura pada Mei 1859.[14] Sementara Hidayatullah sendiri memilih Karang Intan sebagai basis pertahanannya dalam menghadapi pasukan Belanda.[14]

Pada 25 Juni 1859, Hindia Belanda melalui komando Kolonel A. J. Andresen memakzulkan Tamjidullah sebagai Sultan Banjar karena dianggap tidak bisa mengendalikan keadaan di Banjar. Belanda menilai penyerbuan tambang batubara yang dilakukan rakyat Banjar berkaitan dengan polemik suksesi Kesultanan Banjar. Pemerintah kolonial ingin menempatkan Hidayatullah sebagai sultan Banjar karena Hidayatulllah dinilai sebagai tokoh penting dalam penyerbuan ke tambang Pengaron. Hidayatullah harus bisa dijinakkan oleh Belanda melalui cara menempatkannya sebagai sultan sesuai dengan surat wasiat Sultan Adam. Namun rencana pengangkatan oleh Belanda ini ditolak mentah-mentah oleh Hidayatullah dan seluruh bangsawan maupun rakyat Banjar, karena Belanda dianggap sudah terlalu banyak mencampuri urusan keluarga kesultanan, juga adanya kecurigaan bahwa pemerintah kolonial berencana untuk menangkap Hidayatullah jika ia memenuhi panggilan dari kolonel Andersen untuk datang ke Banjarmasin.[16][24]

Hidayatullah sebagai Sultan Banjar[sunting | sunting sumber]

Selanjutnya Pangeran Hidayat mengadakan rapat-rapat untuk menyusun kekuatan dan pada bulan September 1859, Pangeran Hidayatullah II dinobatkan oleh para panglima perang sebagai Sultan Banjar dan sebagai mangkubumi adalah Pangeran Wirakasuma, putera Pangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman dengan Nyai Alimah. Penobatan Hidayatullah ini menjadikan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin rakyat Banjar antara tahun 1859 sampai 1862[32]

Pada 5 Februari 1860 Belanda mengumumkan bahwa jabatan Mangkubumi Pangeran Hidayat dihapuskan.[33] Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1860, Residen F. N. Nieuwenhuijzen secara sepihak mengumumkan penghapusan Kesultanan Banjar, melalui surat berpernyataan di bawah:

Pada 10 Desember 1860, Sultan Hidayatullah melantik Gamar dengan gelar Tumenggung Cakra Yuda sebagai panglima perang Sabil terhadap Belanda, sementara Tagab Wajir dilantik menjadi Kiai Singapati.[34] Ia juga menjadikan Gunung Pamaton sebagai basis pertahanannya. Rakyat di Gunung Pamaton menyambut kedatangannya dan mulai membuat benteng pertahanan sebagai usaha menghalau tentara Belanda yang akan menangkapnya. Di bulan Juni 1861, Sultan Hidayatullah berunding dengan para Mufti di daerah Martapura. Perundingan pertama diadakan di Kalampayan dan yang kedua di kampung Dalam Pagar. Dalam perundingan itu disepakati rencana untuk melakukan serangan umum terhadap kota Martapura.[35] Serangan umum ini direncanakan untuk dilakukan di tanggal 20 Juni 1861, namun rencana itu bocor ke pihak Belanda. Untuk menghadapi serangan umum pasukan Banjar terhadap Martapura, Asisten Residen Mayor Koch yang juga merangkap sebagai panglima daerah Martapura meminta bantuan kepada Residen Gustave Verspijck di Banjarmasin. Residen segera mengirimkan bantuan dengan mengirimkan kapal perang Van Os yang mengangkut meriam dan perlengkapan perang lainnya.[35]

Pertempuran Gunung Pamaton Pertama[sunting | sunting sumber]

Mayor Koch pun lalu melakukan penyerangan besar-besaran secara tiba-tiba ke benteng Gunung Pamaton tempat pertahanan Sultan Hidayatullah di tanggal 19 Juni 1861, mendahului rencana serangan umum terhadap Martapura oleh rakyat yang telah bocor ke pihak Belanda.[36] Rakyat seluruh daerah Martapura dan sekitarnya bangkit menahan serangan Belanda sehingga hampir di seluruh pelosok terjadi pertempuran. Pertempuran bahkan terjadi pula di daerah Kuala Tambangan di selatan. Di sekitar daerah Mataraman, panglima Pambakal Mail juga terlibat pertempuran menghadapi serdadu Belanda. Sementara itu di kampung Kiram, tidak jauh dari Gunung Pamaton dan daerah Banyu Irang, Pambakal Intal dan pasukan Tumenggung Gumar telah berhasil menghancurkan kekuatan Kopral Neyeelie.[19] Pasukan Belanda bukan saja menyerang benteng Gunung Pamaton yang belum berhasil dikuasainya, namun juga membakar rumah-rumah penduduk warga sipil, membinasakan kebun-kebun dan menangkapi penduduk, sehingga penjara Martapura penuh sesak.[37] Tumenggung Gamar yang lalu membawa pasukannya untuk memasuki kota Martapura ternyata tidak berhasil melakukan serangan, karena Belanda telah mempersiapkan pertahanan yang lebih kuat.[37]

Serangan Belanda di tanggal 19 Juni 1861 terhadap benteng Gunung Pamaton akhirnya berhasil digagalkan oleh rakyat Banjar yang memiliki persenjataan yang lebih sederhana. Dalam pertempuran di Gunung Pamaton, banyak sekali jatuh korban di kedua belah pihak. Letnan Ter Dwerde dan Kopral Grimm yang memimpin langsung serangan Belanda tewas terkena tombak dan tusukan keris di perutnya.[35] Sementara mayat-mayat pasukan Belanda yang terbunuh dihanyutkan di sungai Pasiraman, dimana Pambakal Intal dan pasukannya berhasil menguasai senjata para serdadu Belanda.[35] Benteng Gunung Pamaton saat itu dipertahankan oleh banyak pimpinan perang Banjar, selain Sultan Hidayatullah terdapat pula Demang Lehman, Tumenggung Gamar, Raksapati, Kiai Puspa Yuda Negara.[38] Terdapat juga panglima perempuan dalam pertempuran ini yaitu Kiai Cakrawati yang selalu menunggang kuda, dimana ia sebelumnya juga ikut mempertahankan benteng Gunung Madang.[35]

Pertempuran Gunung Pamaton Kedua[sunting | sunting sumber]

Di bulan Agustus 1861, Mayor Koch sekali lagi mengerahkan pasukannya untuk menyerbu Gunung Pamaton. Sebelum serangan dilakukan. Mayor Koch menghancurkan semua ladang, lumbung padi rakyat, hutan-hutan, dengan harapan menghancurkan persediaan bahan makanan, serta menghancurkan hutan-hutan yang berpotensi dapat dijadikan benteng pertahanan oleh rakyat Banjar.[12] Mayor Koch gagal dalam usahanya untuk menangkap Sultan Hidayatullah dan pimpinan perang lainnya, karena sebelumnya benteng ini telah ditinggalkan, karena Hidayatullah menggunakan siasat gerilya dalam usaha melawan Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih unggul.[39] Namun ibu dari Sultan Hidayatullah, Ratu Siti, berhasil ditemukan oleh pasukan Hindia Belanda dan disandera di Martapura.[40]

Setelah ditipu dengan terlebih dahulu menyandera ibunya, Sultan Hidayatullah ditangkap oleh pihak Hindia Belanda pada 28 Januari 1862, dikarenakan adanya kabar bahwa ibunya akan dihukum gantung.[41] Hidayatullah menyerahkan diri karena ia mendengar kabar bahwa ada kemungkinan setelah ibunya dihukum gantung, jasadnya akan dimutilasi oleh pihak pemerintahan kolonial.[40] Lalu pada 2 Maret 1862 ia dibawa dari Martapura ke Banjarmasin, lalu menuju Batavia menggunakan kapal uap di tanggal 3 Maret 1862 dan akhirnya diasingkan ke Cianjur.[13][42] Tampuk kepemimpinan Kesultanan Banjar lalu diserahkan kepada Pangeran Antasari, yang dinobatkan pada 14 Maret 1862 dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.[43] Perang Banjar sendiri baru benar-benar berakhir di tahun 1906.[44]

Pengasingan[sunting | sunting sumber]

Setelah ditangkap secara licik oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Sultan Hidayatullah bersama dengan keluarga dan pengikutnya sejumlah 76 orang dibawa ke Batavia di tanggal 3 Maret 1862, lalu kemudian diasingkan ke Cianjur dimana ia menetap disana sampai akhir hayatnya.[45] Di tempat pengasingannya, ia menjadi seorang yang aktif dalam menyebarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat setempat.[40]

Selama menetap di tempat pengasingannya di Cianjur, Sultan Hidayatullah bertempat tinggal di pemukiman yang dinamakan Kampung Banjar atau Gang Banjar, dimana pemukiman ini terletak di sekitar barak militer Hindia Belanda yang sekarang menjadi Makodim 0608, yang sekarang masuk dalam daerah Kel. Sayang, Kec. Cianjur.[40] Dari tempat ini Hidayatullah menjalankan peran sebagai pendakwah untuk masyarakat setempat, dimana masyarakat Cianjur menjulukinya "ulama berjubah kuning" dikarenakan pakaian kuning yang sering dikenakannya.[45][48] Selama pengasingannya, hanya residen Priangan, Christiaan van der Moore dan bupati Cianjur, Raden Prawiradireja II yang mengetahui identitas aslinya.[18] Di Cianjur, Hidayatullah juga menikahi Nyai Etjeuh, seorang bangsawan setempat yang menurunkan orang-orang blasteran Banjar-Sunda di Cianjur.[49]

Sultan Hidayatullah wafat di tanggal 24 November 1904 pada usia 82 tahun. Ia dimakamkan di daerah Bukit Joglo yang sekarang masuk Kel. Sawah Gede, Cianjur, yang letaknya dekat dengan Taman Prawatasari.[40][50] Kelak di area pemakaman yang sama, dimakamkan juga Sultan Ibrahim Khaliluddin, sultan terakhir dari Kesultanan Paser yang juga berperang melawan pemerintahan kolonial Belanda. Menurut versi lain Pangeran Syarif Hasyim bin Tengku Muhammad Zain Al-Qudsi yang merupakan seseorang yang gagah berani yang ditugaskan untuk memberantas brandal-brandal yang membrontak pada pemerintahan belanda, pada masa Mayor Vespijk menjadi residen di Banjarmasin, sejarah menceritkan brandal-brandal yang memberontak dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah, pembrontakan makin menjadi-jadi sehingga regen belanda terbunuh, sehingga pangeran Syarif Hasyim Al-Qudsi melancarkan serangan terhadap benteng-benteng gerombolan yang memberontak sehingga Pangeran Hidayatullah merasa terdesak dan meminta ampun dengan menyerahkan diri, dan Pangeran Hidayatullah pun menjadi tahanan, tetapi ketika tahu akan dipindahkan ke Cianjur maka Pangeran Hidayatullah pun melarikan diri, sehingga Pengeran Syarif Hasyim Al-Qudsi dan Anaknya Syarif Ali Al-Qudsi mencari dan menahan seluruh keluarga Pangeran Hidayatullah anak beserta istrinya, sehinngga membuat Pangeran Hidayatullah resah dan akhirnya menyerahkan diri lagi kepada pemerintahan belanda. Kemudain Pangeran Hidayatullah dibawa ke Cianjur dengan aman.

Selanjutnya pangeran Syarif Hasyim Al-Qudsi diangkat mejadi Pangeran Syaruf di Kepangeranan canal manunggal batulicin, dan misi menumpas pemberontakan masih berelanjut, pemebrontakan yang dipimpin oleh Damang Wungkang yang membrontak di Banjarmasin. kemudian Pangeran Syarif Hasyim Al-Qudsi mendapat bantuan dari jepang dan akhirnya Damang Wungkang bisa dilumpuhkan, kemudian Banjarmasin aman dengan kepemimpinan Pangeran Syarif Hasyim bin Tengku Sayyid Muhammad Zain Al-Qudsi.

Selanjutnya sejarah yang kedua yaitu peperangan yang terjadi di Banjarmasin peprangan ini adalah perang menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh para berandal yang tidak patuh pada pemerintahan belanda pada naskah manuskrip yang ditemukan oleh penulis perang di sini yaitu pada saat indonesia masih dikuasai oleh Belanda dan kerajaan masih mendukung dengan pemerintahan Belanda (kerajaan boneka) dengan pusat pemerintahan oleh Mayor Vespijk yang menjadi residen di Banjarmasin, peperangan dengan para pemberontak yang paling terkenal adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Hidayatullah, yang meresahkan pemerintahan belanda hingga akhirnya bisa diredam dan Banjarmasin kembali menjadi aman.

Pangeran Syarif Hasyim Al-Qudsi dan saudaranya Pangeran Syarif Husein Al-Qudsi bekarja sama dengan kolonial belanda pada era perang banjar, mareka adalah Putera - putera Tengku Sayyid Muhammad Zain bin Habib Abdurrahman bin Habib Abdullah Al-Qudsi Al-Hasani.[51]

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Anak-anak dari Sultan Hidayatullah diantaranya:

1# Putri Bintang (anak Ratu Mas Bandara)

2# Putri Bulan (anak Ratu Siti Aer Mas)

3# Ratu Kusuma Indra (anak Ratu Siti Aer Mas)

4# Pangeran Abdul Rahman (anak Ratu Mas Ratna Kediri)

5# Ratu Saleha (anak Nyai Rahamah)

6# Gusti Sari Banun (anak Nyai Rahamah)

7# Pangeran Sasra Kasuma (anak Nyai Noerain)

8# Gusti Muhammad Saleh (anak Nyai Arpiah)

9# Pangeran Amarullah (anak Nyai Etjeuh, Cianjur)

10# Pangeran Alibasah (anak Nyai Etjeuh, Cianjur)

11# Dan Lain-lain

Bagan Silsilah[sunting | sunting sumber]

Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar memiliki 4 istri yaitu:

1. ♀ Permaisuri Ratu Salmah Goestie Salmiyah binti Pangeran Mas'ud binti Pangeran Amir[66][67][68][69][70][71][72][73][74][75] bin Seri Sultan Muhammad Illah / Muhammad Aliuddin Aminullah Muhammad dari Banjar bin Seri Sulthan Chamiedoela / Chamidullah / Hamidullah dari Banjar (Sultan Kuning- Panembahan Kuning).Pangeran Mas'ud menikahi Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman Rahmatullah Sulaiman dari Banjar[76][77][78][79][80][81][82][83][84][85] bin Sunan Nata Alam bin Panembahan Sepuh dari Banjar Tamjidillah I .Pangeran Amir menikahi Ratu Amir dari Tanah Bumbu binti Ratu Mas dari Tanah Bumbu binti Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha II.Sultan Amir / Pangeran Amir tertangkap pada 14 Mei 1787, kemudian diasingkan ke Srilangka[86][87][88][89][90][91][92][93][94][95]. Permaisuri Ratu Salmah/Salmiyah Goestie Salmiyah binti Pangeran Masoöd (adik Pangeran Antasari) [2]melahirkan bayi Putra Mahkota yang diberi nama Rachmadillah/Rahmatillah kelak menjadi Sultan Banjar Putra Mahkota namun meninggal wafat nya Putra Mahkota Pengganti adalah Sultan Tamjidillah II / Sultan Tamjidullah al-Wâthiq billâh ). Perkawinan mereka diharapkan akan merukunkan (Tutus Tuha Sultan Kuning)/Sultan Hamidullah dari Banjar dengan keluarga besar (Panembahan Badarul Alam Tutus Anum) Pangeran Mangkubumi Tamjidullah I / yang pada masa sebelumnya memperebutkan tahta.[96][8]


2. ♀ Nyai Ratu Aminah Juriat Putri Dayak Tionghoa (Nyai Biyar / Nyai Dawang), seorang keturunan Cina-Dayak yang melahirkan 2 anak perempuan dan 2 anak lelaki, diantaranya Tamjidullah II (menjabat Sultan Muda yang kelak diangkat Belanda sebagai Sultan Banjar.sultan Tamjidullah II tahun 1857 usia 38 Tahun. Pada tahun 1274 Hijriyah bertepatan tanggal 3 November 1857 Tamjidullah II (umur 38 tahun) telah dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda menjadi Sultan Banjar[97]


3. ♀ Nyai Ratu Halimah Halimah Al-Banjari anak dari Siti Fatimah Al-Banjari lahir 1775 -kematian 1828 binti Syarifah Al-Banjari binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Lahir 17 Maret 1710- kematian 13 Oktober 1812.[98]
ibu dari Wali Raja (sultan) Banjar Pangeran Mangkubumi Wirakusuma II dari Banjar dinobatkan rakyat Banua Lima pada bulan September 1859 sebagai Wali Raja (sultan) Banjar Pangeran Mangkubumi Wirakusuma II dari Banjar mendampingi Adik nya yang menjadi Sultan Banjar Hidayatullah II dari Banjar.


4. ♀ Ratu Siti (Goestie Siti Mariama anak dari Nyai Intan binti Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari)[3] memperoleh tiga anak yaitu Sultan Hidayatullah II dari Banjar, Ratu Syarif Umar (isteri Pangeran Syarif Umar) dan Ratu Rampit/Ratu Jaya Kasuma (isteri Pangeran Jaya Kasuma/Raden Tuyong).[99] Nyai Intan adalah istri Goesti Koesin (Pangeran Husin) bergelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata, Pangeran Hidayatullah II dilahirkan pada 1825, [100]Sultan Hidayatullah II dari Banjar tahun 1857 berusia 32.

CUCU Pangeran Mas'ud terkhusus dari anak Ratu Salmiyah Ratu salmah Goestie Salmiyah binti Pangeran Mas'ud binti Pangeran Amir[101][102][103][104][105][106][107][108][109][110] yaitu :

1. Pangeran Ratu Rakhmatillah Putra Mahkota Wafat Usia 3 Tahun,Anak dari Permasuri Ratu Salmiyah Ratu salmah Binti Permaisuri Ratu Salmah/ Goestie Salmiyah binti Pangeran Mas'ud binti Pangeran Amir[111][112][113][114][115][116][117][118][119][120] penggantinya Sultan Tamjidullah al-Wâthiq billâh Goesti Wayuri Bergelar Tamjidillah / Tamjidillah II- menjadi Sultan Banjar. Adipati Aria Koesoema / Pangeran Aria Kusuma menjadi Adipati Puruk Cahu Banua Lima anak dari Nyai Ratu Aminah. Pangeran Mangkubumi Wira kasoema Wirakusuma II dari Banjar - anak dari Ratoe Sulthan Abdoel Rachman (Ratoe Halimah) Halimah Al-Banjari bin Siti Fatimah Al-Banjari lahir 1775 -kematian 1828 binti Syarifah Al-Banjari binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Lahir 17 Maret 1710- kematian 13 Oktober 1812. CUCU Pangeran Mas'ud terkhusus dari anak mantunya istri Pangeran Antasari yaitu Ratoe Idjah (anak Njahi Salamah+ Sultan Adam dari Banjar) yaitu :

1. ♀ Goesti Hasiah Ratoe Wira Kasoema Wirakusuma II dari Banjar (anak dari Ratoe Idjah Goesti Idjah Ratoe Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin binti Sultan Adam bin Sultan Sulaiman dari Banjar bin Panembahan Batu Sunan Nata Alam Bin Panembahan Sepuh dari Banjar Tamjidillah I


2. ♂ Pangeran Mangkubumi Panembahan Muhammad Said Pangeran Mangkubumi Berkuasa 1862-1875 Penobatan 1862 Pendahulu Pangeran Wirakusuma II dari Banjar Penerus Pangeran Perbatasari (ia anak dari Ratoe Idjah Goesti Idjah Ratoe Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin binti Sultan Adam bin Sultan Sulaiman dari Banjar bin Panembahan Batu Sunan Nata Alam Bin Panembahan Sepuh dari Banjar Tamjidillah I + Menikahi Putri Bulan binti Pangeran Kasirr

3. ♀ Goesti Kaidah (anak dari Ratoe Idjah Goesti Idjah Ratoe Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin binti Sultan Adam bin Sultan Sulaiman dari Banjar bin Panembahan Batu Sunan Nata Alam Bin Panembahan Sepuh dari Banjar Tamjidillah I diperisteri ♂ Gusti Mat Napis (Pangeran Mangku)

Pangeran Antasari memiliki 3 putera dan 8 puteri dari istri lainnya

Menurut tradisi istana kesultanan Banjar yang berlaku pada saat itu, di antara putera-putera dari seorang Sultan yang sedang berkuasa, maka anak laki-laki tertua dari permaisuri akan dilantik sebagai Sultan Muda dan putera kedua dari permaisuri akan dilantik sebagai Raden Dipati atau Pangeran Dipati atau Pangeran Dipati Anom yaitu calon mangkubumi untuk menggantikan mangkubumi atau Pangeran Mangkubumi sebelumnya yang meninggal dunia.

14 anak Pangeran Sultan Muda Abdur-Rahman NAMA ANAK SULTAN MUDA ABDUR RAHMAN URUTAN KELAHIRAN & JABATAN KE DUNIA
1. Pangeran Ratu Rakhmatillah anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 1
2. Sultan Tamjidullah al-Wâthiq billâh Goesti Wayuri Bergelar Tamjidillah / Tamjidillah II anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 2
3. Pangeran Adipati Banua Lima wilayah Gunung Bondang, sebelah udik sungai Lawung, Puruk Cahu/ PANGERAN ARYA KUSUMAH anak Nyai Besar Ratu Aminah /Nyai Besar Ratu Biyar / Nyai Besar Ratu Dawang, seorang Putri Dayak keturunan Cina. menikahi Syarifah Alawiyah anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 3
4. ♀ Ratoe Salma anak Nyai Ratu Aminah diperisteri Pangeran BERAHIM (Ibrahim) bin Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman MARTAPURA ( yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862) anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 4
5. Pangeran Mangkubumi Wirakusuma Wirakusuma II dari Banjar anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 5
6. Sultan Hijdajat Hidayatullah II dari Banjar anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 6
7. PANGERAN JIWA RANTAU (yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862) anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 7
8. PANGERAN ABDULLAH MARTAPURA anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 8
9. PANGERAN ACHMAT KANDANGAN anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 9
10. ♀ RATU ISHAK/Ratoe Zinoen-Aria/Ratoe Ishak BANJARMASIN anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 10
11. ♀ Ratoe Salama/Ratoe Salamah diperisteri Pangeran Krama Djaija Kasoema KARANG INTAN anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 11
12. RATU SILAMAH SERAWAK anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 12
13. ♀ Ratoe Biduri (diperisteri Pangeran Syarief Umar bin Pangeran Said Zein/ Sayyid Zen (yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862) anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 13
14. ♀ Ratoe Rampit diperisteri Pangeran Jaya Kasuma/Raden Tuyong KARANG INTAN anak sultan muda Abdurrahman NOMOR 14

Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar memiliki 14 anak :

1. ♂ Pangeran Ratu Rakhmatillah Putra Mahkota Anak dari Permasuri Ratu Ratu Salmiyah Goestie Salmiyah - binti Pangeran Mas'ud binti Pangeran Amir menikahi Ratu Amir dari Tanah Bumbu binti Ratu Mas dari Tanah Bumbu binti Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha II. Wafat Usia 3 Tahun


2. ♂ Sultan Tamjidullah al-Wâthiq billâh Goesti Wayuri Bergelar Tamjidillah / Tamjidillah II - anak Nyai Ratu Aminah tahun 1857 usia 38,Pada tahun 1274 Hijriyah bertepatan tanggal 3 November 1857 Tamjidillah II (umur 38 tahun) telah dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda menjadi Sultan Banjar[98]


3. ♂ Pangeran Adipati Banua Lima wilayah Gunung Bondang, sebelah udik sungai Lawung, Puruk Cahu/ PANGERAN ARYA KUSUMAH anak Nyai Besar Ratu Aminah /Nyai Besar Ratu Biyar / Nyai Besar Ratu Dawang, seorang Putri Dayak keturunan Cina. menikahi Syarifah Alawiyah[98]

4. ♀ 'Ratoe Salma anak Nyai Ratu Aminah diperisteri Pangeran BERAHIM (Ibrahim) bin Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman MARTAPURA ( yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862)[98]

5. ♂ Pangeran Mangkubumi Wirakusuma Wirakusuma II dari Banjar - anak Nyai Ratu Halimah Ratoe Sulthan Abdoel Rachman (Ratoe Halimah) Halimah Al-Banjari bin Siti Fatimah Al-Banjari lahir 1775 -kematian 1828 binti Syarifah Al-Banjari binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Lahir 17 Maret 1710- kematian 13 Oktober 1812.[98]

6. ♂ Sultan Hijdajat Pangeran Andarun / anak dari Ratu Siti Goestie Siti Mariama binti Nyai Intan binti Alooh Oengka binti Kiai Adipati Singasari Bergelar Hidayatullah II dari Banjar [121] hidayattulah II tahun 1857 usia 32.[98]

7. ♂ PANGERAN JIWA RANTAU (yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862)

8. ♂ PANGERAN ABDULLAH MARTAPURA[98]

9. ♂ PANGERAN ACHMAT KANDANGAN[98]

10. ' ♀ RATU ISHAK/Ratoe Zinoen-Aria/Ratoe Ishak BANJARMASIN[98]

11. ♀ Ratoe Salama/Ratoe Salamah diperisteri Pangeran Krama Djaija Kasoema KARANG INTAN[98]

12. RATU SILAMAH SERAWAK


13. ♀ ♀ Ratoe Biduri (diperisteri Pangeran Syarief Umar bin Pangeran Said Zein/ Sayyid Zen (yang gugur Syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Paringin kini Kabupaten Balangan, Kalsel.Paringin semasa Perang Banjar 1860- 1862) anak dari Ratu Siti ,menikahi Pangeran Sjerief Umar [122]

14. ♀ Ratoe Rampit diperisteri Pangeran Jaya Kasuma/Raden Tuyong KARANG INTAN anak dari Ratu Siti, menikahi pangeran Jaya Kusuma /Djaya Kesoema - [98]

Relasi dengan Regent Amoentaij[sunting | sunting sumber]

Kiai Adipati Singasari merupakan kakek Radhen Adipatie Danoe Radja.

ADIPATI BANUA LIMA
♂ Kiai Adipati Singasari
(memiliki anak 12 orang)
Kiai Temenggung Dipanata
(mempunyai anak 7 orang)
Alooh Oengka
(mempunyai anak 4 orang)
PERMAISURI SULTAN BANJAR
Nyai Ratu Sepuh
(mempunyai 6 anak dengan Sultan Sulaiman Rahmatullah)
REGENT AMOENTAIJ
Kiai Adipatie Danoe Radja
mempunyai anak:
1. Kiai Temenggung Mangkunata Kusuma
2. Kiai Temenggung Ngabei Wargakusuma
3. Hadji Temenggung Kasuma Juda Negara
Nyai Intan
diperisteri Pangeran Mangkoe Boemi Nata, mempunyai anak:
1. Ratu Siti (ibu Pg. Hidayatullah II)
Alooh Namir
(mempunyai anak 3 orang)
Mahmud
(tidak mempunyai anak)

Relasi dengan Raja Kusan dan Raja Pulau Laut[sunting | sunting sumber]

Kiai Adipati Singasari leluhur raja-raja Pulau Laut.

Kiai Adipati Singasari merupakan mertua Sultan Sulaiman dari Banjar[sunting | sunting sumber]

ADIPATI BANUA LIMA
Kiai Adipati Singasari
(memiliki anak 12 orang)
Kiai Temenggung Dipanata
(mempunyai anak 7 orang)
PERMAISURI SULTAN BANJAR
Nyai Ratu Sepuh
(mempunyai 6 anak dengan Sultan Sulaiman Rahmatullah)
Kiai Temenggung Warganata
(mempunyai anak 5 orang)
SULTAN BANJAR
Sultan Adam
(mempunyai anak 11 orang)
MANGKUBUMI BANJAR
Pangeran Mangkoe Boemi Nata (P. Husin)
(mempunyai anak 17 orang)
Pangeran Perbatasari
(mempunyai anak 5 orang)
PERMAISURI RAJA KUSAN
Ratu Haji Moesa
(mempunyai 3 anak dengan Pangeran Hadji Moesa raja Kusan II)
Pangeran Kasir
(mempunyai anak 17 orang)
Ratu Sungging Anum
tidak mempunyai anak, diperisteri Pangeran Sungging Anum
bin Ratu Anum (ismail) Mangkubumi Sukma Dilaga

RELASI RATU BIDURI Ratu anak Goestie Siti Mariama Ratoe Abdoel Rachman Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar[sunting | sunting sumber]

Pangeran Said Zein(Sayyid Zein)
♂ Pangeran Sjerief Oemar (PANGERAN SYARIF UMAR)
♀ Ratu Maimunah(anak Putri Lawiyah)binti Pangeran Mangkubumi Nata 1761-1801 Sunan Nata Alam
♂ Pangeran Sjerief Aboe Bakar(PANGERAN SYARIF ABU BAKAR)
sultan muda Abdur Rahman dari Banjar
♀ Ratu Biduri binti
Goestie Siti Mariama Ratoe Abdoel Rachman Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar
♀ Syarifah Intan
SULTAN MUDA BANJAR

♂ Pangeran Ratu

Pangeran Sultan Muda Abdur Rahman dari Banjar
MANGKUBUMI BANJAR ♂ Pangeran Wira Kasoema
♀ Nyai Halimah Putri juriat Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari
♀ Ratoe Sjerief Aboe Bakar(RATU SYARIF ABU BAKAR)
SULTAN BANJAR

♂ Gusti Inu Kartapati

Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin Pangeran Antasari
♀ Ratu Hasiah
♀ Ratoe Idjah(anak Njahi Salamah) binti Sultan Sulaiman dari Banjar

Kekerabatan dengan Raja Pulau Laut[sunting | sunting sumber]

Raden Adipati Danu Raja merupakan kerabat (ipar) Nyai Ratu Kamala Sari (permaisuri Sultan Adam)[123]Kekerabatan Adipati Banua Lima dengan Raja Pulau Laut

ADIPATI BANUA LIMA

↓ (berputri)

PUTRI ADIPATI BANUA LIMA
  • ♀ Alooh Oengka x ♂ Kiai Ngabehi Jaya Negara (Pambakal Abdul Karim) bin Datu Kabul
↓ (berputra)
  • Kiai Adipatie Danoe Radja (m. 1835-1862)
↓ (berputra)
  1. Kiai Temenggung Mangkunata Kusuma
  2. Kiai Temenggung Ngabei Wargakusuma (Radhen Ngabehi Warga Kasoema)[124][125]
  3. Hadji Temenggung Kasuma Juda Negara
PERMAISURI SULTAN BANJAR
  • ♀ Nyai Ratu Sepuh x ♂ RAJA BANJAR: Sultan Sulaiman Saidullah 2
↓ (berputri)

PERMAISURI RAJA KUSAN

  • Ratoe Hadji Moesa + ♂ Raja Kusan, Batulicin, Bangkalaan: Pangeran Hadji Moesa
↓ (berputra)

RAJA PULAU LAUT

  • ♂ Raja Kusan, Batulicin, Pulau Laut: Pangeran Abdoel Kadir x Gusti Abun Sari binti Pangeran Mangkoe Boemi Nata
↓ (berputra)
  • ♂ Raja Pulau Laut: Pangeran Berangta Kasuma
↓ (berputra)
  • ♂ Raja Pulau Laut: Pangeran Amir Husin Kasuma + ♀ Ratoe Bese
↓ (berputra)
  • ♂ Raja Pulau Laut: Pangeran M. Aminullah Kasuma + ♀ Ratu Tajeng
↓ (berputri)
  • ♀ Putri Jahrah Kasoema
↓ (berputra)
  • ♂ Gusti Chaldoen + ♀ Gusti Rohana
↓ (berputri)
  1. ♀ Gusti Mahrita
  2. ♀ Gusti Risnawati
  3. ♀ Gusti Megaria
  4. ♀ Gusti Helyani
  5. ♀ Gusti Helnawati
  6. ♂ Gusti Helyadi

Hubungan Silsilah dengan keluarga kerajaan Sumbawa[sunting | sunting sumber]

Di bawah ini adalah silsilah Pangeran Hidayatullah dengan Raja Sumbawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV, yang tertulis dalam buku Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde volume 14 (1864:503):[21]

Omtrent de lans Kaliblah wordt het navolgende verhaald. Zij behoorde vroeger tot de rijkswapens van den Sultan van Sumbawa. Een dezer Sultans nu was in het huwelijk getreden met Ratoe Laija, eene zuster van Sultan Tahmid Ilah II van Bandjermasin. Uit dat huwelijk is de Sulthan Mohamad, die later over Sumbawa geregeerd heeft geboren.[21]

Berikut ini terkait dengan tombak Kaliblah. Tombak ini dulu milik senjata nasional Sultan Sumbawa. Salah satu Sultan ini (Dewa Masmawa Sultan Mahmud) sekarang menikah dengan Ratoe Laija (Putri Sara), saudara perempuan dari Sultan Tahmid Illah II (Raja Banjar 1761/67-1801) dari Bandjermasin. Buah dari pernikahan itu adalah Sulthan Mohamad (Lalu Muhammad, Sultan Muhammad Kaharuddin II Raja Sumbawa XIII 1795-1816), yang kemudian memerintah atas Sumbawa.

}} |}

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863. 2. D. A. Thieme. hlm. 162.
  2. ^ a b c d Sjamsuddin, Helius (2001). Pegustian & Temenggung Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859–1906. Balai Pustaka & Penerbit Ombak. hlm. 120. ISBN 979666626X. ISBN 978-979-666-626-3 Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "pegustian" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  3. ^ a b c d http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  4. ^ https://www.tribunnews.com/ramadan/2017/05/29/dalem-cikundul-murid-sunan-gunung-jati-penyebar-islam-di-cianjur
  5. ^ https://historia.id/politik/articles/pangeran-yang-terbuang-DWezl/page/2
  6. ^ Kiai Bondan, Amir Hasan (1953). Suluh Sedjarah Kalimantan. Bandjarmasin: Fadjar. hlm. 38.
  7. ^ M. Idwar Saleh, Sri Sutjiatiningsih (1993). Pangeran Antasari. Indonesia: Proyek lnventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 18.
  8. ^ a b Kielstra, Egbert Broer (1892). De ondergang van het Bandjermasinsche rijk (dalam bahasa Belanda). E.J. Brill. hlm. 85. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Egbert Broer Kielstra" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  9. ^ C. E. van Kesteren, R. A. van Sandick, J. E. de Meyier (1891). De Indische gids (dalam bahasa Belanda). J. H. de Bussy. hlm. 821.
  10. ^ Ratna, Dewi (2016-06-18). Ratna, Dewi, ed. "Sejarah kekacauan di Istana Banjar karena campur tangan Belanda". Merdeka.com. Diakses tanggal 2021-06-18.
  11. ^ a b Sejarah perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme di Kalimantan Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983.
  12. ^ a b c "Pangeran Hidayatullah dan Pertempuran Sengit di Gunung Pamaton". Sindonews.com. 2017-03-18. Diakses tanggal 2021-06-19.
  13. ^ a b c Matanasi, Petrik. "Saat Pangeran Antasari Menyerang Tambang Asing". Tirto.id. Diakses tanggal 2021-06-19.
  14. ^ a b c "Ketika Perang Banjar Berkecamuk". Republika Online. 2019-03-25. Diakses tanggal 2021-06-20.
  15. ^ "19 Juni 1861 : Sultan Hidayatullah Pimpin Perlawanan Terhadap Belanda di Gunung Pamaton". Koran Makassar. 2021-06-18. Diakses tanggal 2021-06-20.
  16. ^ a b "Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda". jejakrekam.com. 2018-09-27. Diakses tanggal 2021-06-20.
  17. ^ "Sejarah Perang Banjar: Penyebab, Tokoh, & Aksi Pangeran Antasari". Tirto.id. Diakses tanggal 2021-06-29.
  18. ^ a b "Empat Raja yang Dibuang ke Cianjur". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2017-07-11. Diakses tanggal 2021-07-02.
  19. ^ a b "Hari Ini di 1861 HIdayatullah Bertempur Melawan Belanda di Gunung Pamaton". Republika Online. 2013-06-19. Diakses tanggal 2021-06-09.
  20. ^ Mardjoned, Ramlan (1990). K.H. Hasan Basri 70 tahun: fungsi ulama dan peranan masjid. Media Da'wah.
  21. ^ a b c "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde" (dalam bahasa Belanda). 14. Batavia: Lange & Company, Martinus Nijhoff. 1864: 503.
  22. ^ "Ensiklopedia Sumbawa | C. Pemerintahan Sultan (Bagian 1)". kebudayaan.sumbawakab.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-05-18. Diakses tanggal 2021-07-03.
  23. ^ Arnold Meyer (1866). De onpartijdigheid van den schrijver van "De bandjermasinsche krijg" (dalam bahasa Belanda). De Veij Mestdagh. hlm. 10.
  24. ^ a b c d Subiyakto, Bambang (2020-03-02). Pangeran Hidayatullah: Perjuangan Mangkubumi Kesultanan Banjarmasin. FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
  25. ^ a b c "Surat Wasiat Sultan Adam dan Regalia Kesultanan Banjar". jejakrekam.com. 2017-11-12. Diakses tanggal 2021-07-30.
  26. ^ M. Gazali Usman, Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam, Banjarmasin: Lambung Mangkurat Press, 1994.
  27. ^ "Landsdrukkerij". Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië, voor 1858 (dalam bahasa Belanda). 31. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1858. hlm. 119.
  28. ^ a b Hindia-Belanda (1965). Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia-Belanda 1635-1860 (PDF). Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat. hlm. 158.
  29. ^ Devara, Panuganti (2020-05-21). "Menjelajah Kalimantan". doi:10.5194/amt-2019-437-ac3.
  30. ^ Ratna, Dewi (2016-06-20). Ratna, Dewi, ed. "Semangat perjuangan Pangeran Antasari & kisah penyerangannya". Merdeka.com. Diakses tanggal 2021-08-17.
  31. ^ "Perang Banjar Barito (1859-1906) : besar - dahsyat - lama : (deskripsi dan analisis sejarah) / Ahmad Barjie B. ; editor, Aliansyah Jumbawuya | OPAC Perpustakaan Nasional RI". opac.perpusnas.go.id. Diakses tanggal 2021-08-06.
  32. ^ M.Hum, Dr Nyayu Soraya (2021-03-22). Islam dan Peradaban Melayu. Desanta Publisher. ISBN 978-623-6010-20-4.
  33. ^ (Indonesia) Tamar Djaja, Pustaka Indonesia: riwajat hidup orang-orang besar tanah air, Volume 2, Bulan Bintang, 1966
  34. ^ Sejarah perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme di Kalimantan Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983.
  35. ^ a b c d e Murjani, Ahmad. Datu Sang Pahlawan Legendaris. GUEPEDIA. ISBN 978-623-309-544-0.
  36. ^ Basuni, Ahmad (1986). Pangeran Antasari: pahlawan kemerdekaan nasional dari Kalimantan. Bina Ilmu.
  37. ^ a b Mayur, Gusti (1979). Perang Banjar. Rapi.
  38. ^ Okezone, Tim (2022-06-19). "Peristiwa 19 Juni : Pertempuran Pribumi Lawan Belanda Pecah di Kalsel". Okezone.com. Diakses tanggal 2022-06-25.
  39. ^ Senin; Maret 2022, 14 Maret 2022 20:54 WIB 14; Wib, 20:54 (2022-03-14). "Perang Banjar: Perlawanan Penjajahan Kolonial Belanda yang Berlangsung pada 1895-1905". indozone.id. Diakses tanggal 2022-06-25.
  40. ^ a b c d e Maskuriah, Ulul. "Bupati Ingin Pengeran Hidayatullah Sebagai Pahlawan Nasional". ANTARA News. Diakses tanggal 2022-06-12.
  41. ^ Moeliono, Irmayanti (2013). Prosiding International Conference on Indonesian Studies: ethnicity and globalization. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
  42. ^ "Sejarah Singkat Diasingkan ke Cianjur, Ini Kata Cucu Pangeran Hidayatulloh". Info Sembilan. 2021-03-31. Diakses tanggal 2022-06-15.
  43. ^ Fajri, Dwi Latifatul (2022-03-18). "Biografi Pangeran Antasari, Pemimpin Kesultanan Banjar". Katadata. Diakses tanggal 2022-06-15.
  44. ^ Wajidi (2007). Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan, 1901-1942. Pustaka Banua.
  45. ^ a b prokal.co. "Pangeran Hidayatullah, Sultan Banjar yang Diasingkan Belanda | Radar Banjarmasin". kalsel.prokal.co (dalam bahasa Indonesian). Diakses tanggal 2022-06-17.
  46. ^ Le Rutte, Jean Marine Charles Edoeard (1863). Expeditie tegen de versterking van Pangeran Antasarie gelegen aan de Montallatrivier: beschrijving der versterking te Goenong Tongka, na de inname : aantekeningen omtrent Pangeran Hijdaijat, benevens eene naamlijst der officieren van de land- en zeemagt met opgave van de oorlogsbodems die aan den strijd hebben deelgenomen tot onderwerping van Pangeran Hijdaijat (edisi ke-2). A.W. Sythoff (Sijthoff). hlm. 10.
  47. ^ (Belanda) Rutte, J. M. C. E. Le (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlog. A.W. Sythoff. hlm. 20.
  48. ^ "Pimpin Perang Banjar, Ulama Berjubah Kuning Tinggal Selangkah Lagi Menuju Pahlawan Nasional – Teras7.com". 2021-11-06. Diakses tanggal 2022-06-16.
  49. ^ "Pangeran yang Terbuang". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2018-07-16. Diakses tanggal 2022-06-15.
  50. ^ ""Cafe Yuli Inul", Cafe Terpopuler di Taman Prawatasari Cianjur". Indonesia Media Center (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-06-16.
  51. ^ admin (2017-05-10). "Museum Sadurangas Simpan Sejarah yang Membanggakan". Diakses tanggal 2022-06-25.
  52. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  53. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  54. ^ https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2017/07/24/sejarah-datu-kabul/
  55. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  56. ^ https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2017/07/24/sejarah-datu-kabul/
  57. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  58. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  59. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  60. ^ https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2017/07/24/sejarah-datu-kabul/
  61. ^ https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2017/07/24/sejarah-datu-kabul/
  62. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  63. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  64. ^ http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  65. ^ https://www.wikidata.id-id.nina.az/Adipatie_Danoe_Radja.html
  66. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  67. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  68. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  69. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  70. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  71. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  72. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  73. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  74. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  75. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  76. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  77. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  78. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  79. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  80. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  81. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  82. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  83. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  84. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  85. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  86. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  87. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  88. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  89. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  90. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  91. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  92. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  93. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  94. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  95. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  96. ^ C. E. van Kesteren, R. A. van Sandick, J. E. de Meyier (1890). De Indische gids (dalam bahasa Belanda). 12. J. H. de Bussy. hlm. 2397.
  97. ^ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, Volume 23;Volume 52-53
  98. ^ a b c d e f g h i j k Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap. 9. Lange. hlm. 122.
  99. ^ Willem Adriaan Rees, De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: met portretten, platen en een terreinkaart, Bagian 1, D. A. Thieme, 1865
  100. ^
    Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, Volume 23;Volume 52-53
  101. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  102. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  103. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  104. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  105. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  106. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  107. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  108. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  109. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  110. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  111. ^ https://www.liputan6.com/news/read/4679986/11-oktober-1862-perjuangan-pangeran-antasari-terhenti-karena-wabah-cacar?page=2
  112. ^ https://bakabar.com/post/pangeran-antasari-sosok-pahlawan-nasional-asal-kalimantan-selatan-yang-diabadikan-dalam-uang-rp-2000-l7bc3f4r?source=redirect
  113. ^ https://www.kalimantan-news.com/mengenang-pangeran-antasari-pahlawan-dari-pulau-borneo/
  114. ^ https://www.inews.id/news/nasional/biografi-pangeran-antasari-pahlawan-nasional-pemimpin-perang-banjar
  115. ^ https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/hasil-perlawanan-pangeran-antasari-terhadap-belanda-yang-menarik-diketahui-22AtLGScGl5
  116. ^ http://sayyidfajar.blogspot.com/2013/10/habib-sangeng-al-haddad.html
  117. ^ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/03/30/mengenal-pangeran-antasari
  118. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  119. ^ https://www.orami.co.id/magazine/pangeran-antasari
  120. ^ https://katadata.co.id/berita/nasional/62343f7412ec4/biografi-pangeran-antasari-pemimpin-kesultanan-banjar
  121. ^ Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, Volume 23;Volume 52-53
  122. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama tutur candi
  123. ^ name="De Indische gids"name="Tijdschrift 9"
  124. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1868). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 41. Lands Drukkery. hlm. 138.
  125. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1871). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. 44. Lands Drukkery. hlm. 197.
  126. ^ https://web.archive.org/web/20140303172019/http://sinarbulannews.wordpress.com/2011/01/02/silsilah-keturunan-sultan-adam-al-wasikubillah-martapura-kerajaan-banjar/
  127. ^ a b c Willem Adriaan Rees (1867). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: nader toegelicht (dalam bahasa Belanda). Dutch East Indies: D.A. Thieme. hlm. 22.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Van Rees WA. 1865. De Bandjarmasinsche Krijg van 1859-1863, Arnhem: Thieme.
  • Pangeran Shuria Rum. 1989. Riwayat Perjuangan Pangeran Hidayatullah.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • http://en.rodovid.org/wk/Person:77015 Silsilah Sultan Hidayatullah Halil-lillah
  • (Indonesia) http://ruangsemedi.blogspot.co.id/2009/05/pangeran-hidayatullah.html
  • (Indonesia) http://icssis.files.wordpress.com/2013/09/2013-01-24.pdf
  • (Indonesia)Yayasan Pangeran Hidayatullah Cianjur
  • (Indonesia)canggah Hidayatullah II Diarsipkan 2016-03-05 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)Silsilah Hidayatullah
  • (Indonesia)Sultan Hidayatullah Memaklumatkan Perang Jihad Fisabililah terhadap kerajaan Hindia Belanda Diarsipkan 2016-03-05 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)Surat Wasiat Sultan Adam kepada Pangeran Hidayatullah
  • (Indonesia)Sejarah Kerajaan Banjar Perlu Diluruskan
  • (Indonesia)Sekilas Riwayat Hidup Pangeran Hidayatullah
  • (Inggris)Daftar Sultan Banjar dalam Regnal Chronologies Diarsipkan 2018-01-11 di Wayback Machine.
  • (Inggris) Daftar Sultan Banjar dalam Indonesian Traditional States II
  • (Indonesia)Elite Tandingan dan Gerakan Massa Di Kalimantan Tenggara Bagian Selatan Pada Abad XIX
  • (Indonesia)Kajian tentang Fenomena birokrasi di Kesultanan Banjarmasin
  • (Indonesia)Sejarah Kerajaan Banjar di MelayuOnline.com Diarsipkan 2007-11-21 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)Kerajaan Banjar
  • (Indonesia)Asrama Kalsel Pangeran Hidayatullah[pranala nonaktif permanen]
  • (Indonesia) http://banjarcyber.tripod.com/zamanbaru.pdf Diarsipkan 2011-06-16 di Wayback Machine.
  • http://www.kabarbanjarmasin.com/posting/pangeran-hidayat-bangsawan-yang-dicintai-rakyat.html Diarsipkan 2014-05-14 di Wayback Machine.

{{Portal bar|Islam|Indonesia|Sejarah|Biografi}}