Gaya Hidup Vegan Mengubah Hidupku

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Katia Shiffana tak menyangka, hidupnya berubah drastis setelah menonton sebuah movie dokumenter berdurasi sekitar 97 menit. Film berjudul What the Health itu merupakan karya Kip Andersen yang juga menyutradarai movie Cowspiracy: The Sustainability Secret (2014). Film ini berasal dari kegelisahan Kip sendiri yang mempunyai sejarah glukosuria dalam keluarganya. Ia cemas penyakit itu bakal turut merenggut nyawanya. Kip lantas berjumpa dengan beragam industri makanan, pertenakan, mahir Kesehatan, intelektual dan aktivis.

Dalam perjalanannya, Kip mengungkapkan kebenaran mencengangkan seputar konsumsi daging dan produk hewani serta dampaknya terhadap penyakit kronis seperti glukosuria dan kanker. Meskipun movie kontroversial ini menuai banyak pro dan kontra, Katia merasa info yang disampaikan di dalam movie itu cukup mengerikan dan membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang vegan.

Transisi style hidup yang Katia jalankan tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Enam tahun silam, saat tengah kuliah di Ritsumeikan University, Jepang, kondisi Katia Shiffana betul-betul kacau. Perempuan yang senang masak dan kegemaran makan ini tidak bisa lepas dari makanan junk food. Ditambah kegemaran begadang dan makan mie instan, berat Katia naik 15 kg dalam sekejap. Bukan hanya berat badan yang terdampak, kulit wajah Katia pun menjadi jerawatan dan kusam.

“Aku, tuh, tukang diet dari SMP. Mulai dari keto diet, military diet, macam-macam udah saya coba. Pas kuliah berat badan naik, saya jadi insecure, saya pengin mulai diet lagi. Malah nggak sengaja nemu movie itu,” ucap Katia kepada detikX.

Berbeda dengan style hidup Vegetarian yang tetap mengonsumsi produk turunan hewan seperti telur dan susu, sebagai penganut Vegan, dia tidak lagi makan segala corak produk hewani. Beruntung lingkungan tempat tinggalnya di Jepang begitu mendukung perubahan style hidupnya. Meski lebih mahal, sayur mayur dan buah-buahan di Jepang terkenal dengan kualitasnya yang baik dan rasanya yang lebih enak. Makanan Vegan dan Vegetarian pun tak melulu sayur dan buah.

“Waktu itu di Jepang udah ada daging-daging palsu. Aneka beans juga lengkap. Justru di Indonesia lebih lezat lagi, semuanya lengkap. Sayur-sayuran ada all season. Ada tahu dan tempe. Sayur dan buahnya juga lebih murah. Malah menurutku sebagai seorang Vegan di Indonesia lebih dimudahkan,” ungkapnya.

Semenjak menerapkan pola hidup ini, Katia mulai merasakan akibat positifnya. Berat badan berangsur menurun, kondisi wajahnya ikut membaik. Lidah Katia mulai terbiasa makan tanpa daging. Hati Katia menjadi jauh lebih tenang lantaran dia tak perlu lagi berkontribusi dalam pembunuhan hewan demi konsumsi daging.

Awalnya Papa saya nggak setuju. Kata Papa saya ‘Gila udah sekolah jauh-jauh, pulang malah mau jadi tukang nasi uduk."

“Aku nggak tidak suka rasa daging. Aku suka daging. Tapi saya memilih nggak makan lantaran mau less animal suffering. Dan jika misalkan udah ngerasain manfaatnya, nggak pengin kembali makan daging lagi, sih. Lama-lama badan kita bakal penyesuaian untuk menolak makanan yang nggak sehat,” ungkapnya.

Hobi masak membikin Katia melakukan eksplorasi resep-resep berbahan dasar plant based. Resep-resepnya dia unggah ke dalam sebuah blog Bernama Vegan Baby. Saat mengikuti sebuah aktivitas volunteer di Bali, Katia sengaja menemui pemilik upaya berbasis vegan untuk berganti pikiran. Katia mempunyai cita-cita untuk membuka upaya kuliner vegan berkonsep warung makan.

“Aku jadi passionate banget sama heathy food. Aku pengin orang Indonesia lebih aware sama kesehatannya. Karena kasus glukosuria dan kolestrol di Indonesia termasuk tinggi. Aku happy banget jika I can be one of the reason orang berubah,” tutur wanita yang sekarang berumur 26 tahun.

Demi menuntaskan mimpi itu, Katia rela menolak mentah-mentah tiga tawaran kerja yang cukup bergengsi di Jepang. Tahun 2020, Katia kembali ke Indonesia dan memilih membuka upaya kuliner rumahan berbasis vegan. Menu pertama yang dia jual saat itu adalah nasi uduk. Seiring berjalannya waktu, menu yang disajikan Katia bertambah. Belakangan anak pertama dari dua berkerabat ini pun menerima jasa vegan catering. Penjualan makanan Vegan ini meningkat tajam saat Covid-19 tengah melanda.

“Awalnya Papa saya nggak setuju. Kata Papa saya ‘Gila udah sekolah jauh-jauh, pulang malah mau jadi tukang nasi uduk’,” cerita Katia.

Katia sukses membuktikan dirinya bisa sukses melalui makanan vegan ini. Salah satu menu Vegan Baby, Mushroom Cheesteak apalagi sempat mendapat pengakuan bergengsi dari organisasi kewenangan asasi binatang, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA). Pada Februari 2021, menu Vegan Mushroom Cheesteak dinobatkan sebagai 2021 Best Veggie Burgers. Menu ini terinspirasi dari salah satu sandwich kesukaan Katia ialah Philly Cheesteak.

Sejak tahun 2021, Katia konsentrasi mengembangkan penemuan upaya mie instan vegan yang lebih kondusif dikonsumsi. Ia menciptakan mie instan yang lebih rendah kalori, rendah sodium, tinggi serat tapi tetap kondusif dikonsumsi. Selama dua tahun, Katia sukses menjual 300 ribu paket mie instan yang juga dia beri nama Vegan Baby. Penjualan ini bukan Cuma di Indonesia, melainkan juga ke Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Australia, Amerika Serikat, Inggris hingga Timur Tengah.

“Melihat progress Vegan Baby sekarang senang banget dong. Soalnya dulu dibilang ngapain upaya mie mahal sehat, nggak bakal laku di sini. Mendingan upaya boba alias basreng. Ternyata orang-orang pada excited. Produk kita sampai sold out berkali-kali,” tutur wanita yang pernah mengambil pendidikan plant based nutrition di Cornell University pada Februari 2021.