Filsafat, Hukum, dan Perkara-Perkara Konkret

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

Hotman Paris Hutapea dkk mengkritik filsafat. Dia mempertanyakan keahlian makulat menyelesaikan masalah hukum. Filsafat menjadi terasa tidak konkret dan tumpul di hadapan problematika praktis kiwari. Lantas, apa sebaiknya kita akhiri saja sejarah ribuan tahun makulat cukup sampai 2024 ini?

"Filsuf hanya menafsir-nafsirkan dunia. Padahal yang lebih krusial adalah mengubah bumi itu sendiri," kata Karl Marx, kurang lebih demikian, lumayan sinis juga jika dipikir-pikir. Kalimat tersebut terukir sebagai epitaf di batu nisannya.

Ada sinisme terendus, meski Marx sebenarnya juga filsuf yang sedang mengkritik filsuf lain (Feuerbach). Sinisme tersebut bisa dimaklumi jika kita berempati terhadap kesebalan lantaran makulat hanya jadi komentator atas realitas. Ada pula 'filsafat borjuis' dan makulat yang terasa asing dari hidup sehari-hari masyarakat lantaran pengetahuan itu berkutat soal metafisika-ontologi-epistemologi yang ndakik-ndakik, diperbincangkan di 'menara gading', dan seolah tidak mengenai dengan kemalangan kelas pekerja yang dilindas-lindas roda industri era itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Marx menjungkirbalikkan filsuf yang seolah melangkah di atas kepalanya agar kemudian melangkah dengan kakinya. Idealisme dia ubah menjadi materialisme. Dialektika Hegel dia bikin lebih konkret agar bisa dipakai membedah hal-hal yang nyata ada. Filsafat perlu berpijak pada realitas ekonomi-politik, bukan pada hal-hal yang mengawang-awang.

Itu hanya salah satu contoh gimana pada satu periode makulat pernah terasa tumpul menghadapi sejarah. Padahal dulu kala, era Yunani Kuno, makulat menempati kedudukan prestisius, dipelajari oleh ningrat-ningrat yang punya banyak waktu senggang (Alexander Agung saat muda misalnya). Dari disiplin itulah kemudian lahir ilmu-ilmu spesifik macam biologi, kimia, dan fisika. Filsafat adalah induk segala ilmu, ya termasuk pengetahuan hukum.

Tentu tidak masalah jika makulat dikritik. Justru itu perlu. Pada dasarnya sejarah makulat memang selalu diwarnai kritik (tanpa kudu sampai ke instansi polisi tentunya). Toh, orang yang mengkritik filsafat, alias lebih parah lagi tidak setuju filsafat, sebenarnya orang itu juga sedang berfilsafat, tentu saja jika argumennya memadai.

Jangankan sampai pada kritik terhadap filsafat, apalagi 'apa itu filsafat?' saja tetap menjadi perkara yang tidak selesai sampai sekarang. Silakan simak buku-buku yang tak hentinya membahas 'apa itu filsafat?' dan tema sejenis.

Meskipun demikian, ada baiknya tidak cepat-cepat mengakhiri makulat pada 2024 ini, saat orang sedang butuh-butuhnya. Kebijaksanaan (begitu salah satu asal kata dari 'filsafat') tentu saja diperlukan. Pada bagian norma dan politik, ekonomi, militer, kedokteran, farmasi, seni, hingga kepintaran buatan (Artificial Intelligence/AI) pertimbangan etika (cabang filsafat) absolut perlu. Di bagian kebudayaan misalnya, pendekatan makulat dapat menjernihkan. Di bagian spiritual-keagamaan, makulat dapat mencerahkan. Atau tidak juga?

Tidak ada garansi. Dalam banyak kasus, 'cinta kepada kebijaksanaan' menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan, semacam kasih tak sampai. Bahkan para filsuf bisa saja berdebat soal apa itu 'kebijaksanaan'. Alih-alih mencerahkan dan bikin orang lebih bening memandang suatu masalah, justru makulat malah membuncahkan lebih banyak pertanyaan daripada solusi.

"Bila Anda mau kedamaian hati maka berimanlah, tapi jika Anda mau mencari kebenaran maka carilah," kata Nietzsche. Tentu akibat dari pencarian kebenaran adalah tidak berjumpa dengan kebenaran, alias apalagi tersesat kehilangan arah. Maklumlah, namanya juga mencari, bisa ketemu dan bisa juga tidak ketemu.

Bila Anda memberi satu pertanyaan, maka makulat bisa memberi Anda pertanyaan tujuh kali lipat lebih banyak. Jadi, makulat bisa menambah masalah. Memang terdengar tidak praktis.

Filsafat bukanlah pengetahuan praktis-praktisan. Benar, makulat memang tidak konkret-konkret amat. Si induk segala pengetahuan ini bermain di ranah abstraksi, umum, general, alias bahasa kerennya adalah 'mencari hakikat'. Filsafat senantiasa identik dengan pertimbangan nilai-nilai, baik setuju dengan nilai-nilai tertentu, menggunakan nilai-nilai tertentu, menentang nilai-nilai tertentu, alias mengkritisi nilai-nilai tertentu. Ilmu semacam ini senantiasa dibutuhkan sepanjang sejarah kemanusiaan.

Di bagian hukum, apalagi perihal yang dapat dijadikan pertimbangan selain fakta, kesaksian, dan pasal-pasal? Kebijaksanaan kudu datang di pengadilan. Lebih perlu lagi, kebijaksanaan setara filsuf kudu dimiliki para kreator undang-undang.

"Berbicara patokan norma bukan lagi berbincang apakah patokan norma itu baik alias buruk. Baik dan jelek adalah persoalan nilai (values) yang sudah kudu dipertimbangkan ketika norma norma dibuat," tulis Profesor Adji Samekto dalam kitab Pergeseran Pemikiran Hukum saat membahas soal positivisme hukum.

Prof Adji yang merupakan siswa tokoh norma progresif Indonesia menjelaskan bahwa norma bukanlah sekadar untuk mengukuhkan kebenaran yang sudah ada seperti dalam positivisme hukum, tetapi sebaliknya, pengetahuan norma untuk menggugat kembali kebenaran yang sudah mapan. Ini kan makulat banget.

Saya tidak bakal masuk ke masalah spesifik antara Hotman Paris versus Rocky Gerung. Biarlah masalah berbau pemilu itu diselesaikan dengan langkah terbaik serta intelek (dan mungkin langkah yang menghibur?). Terlepas dari masalah berbau persaingan Pilpres 2024 itu, terselip kritik Hotman dkk soal filsafat. Video pendek diunggah Hotman di akun Instagram-nya. Di rekaman video yang cukup viral itu ada pula Otto Hasibuan, advokat kenamaan.

"Filsafat, filsafat...Emang makulat bisa menyelesaikan hukum?" ujar Hotman.

"Filsafat nggak pernah bisa menyelesaikan suatu perkara konkret. Jadi itu hanya berada di awang-awang saja," jawab Otto Hasibuan menanggapi dari sisi kiri Hotman, diakhiri tertawa kecil.

"Filsafat itu hanya berisi fiksi," kata laki-laki di samping kanan Hotman, menimpali.

Tak perlu menukil semboyan Karl Marx, Nietzsche, alias Zizek untuk merespons sorotan Hotman dkk itu. Cukuplah kita membuka kitab yang berkawan dengan pembelajar makulat semester satu, ialah Pengantar Filsafat dari Louis O Kattsoff di laman awal. Ada kalimat yang dapat menjadi renungan mengenai level kepraktisan dan ketidakpraktisan makulat sebagaimana yang disorot pengacara kondang itu.

"Filsafat tidak membikin roti, namun makulat dapat menyiapkan tungkunya, menyisihkan noda-noda dari tepungnya, menambah jumlah bumbunya secara layak, dan mengangkat roti itu dari tungku pada waktu yang tepat," tulis Kattsoff.

Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan, demikian tulis Kattsoff, dan bermaksud mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin, kemudian mengatur semua itu dalam corak sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman menuju tindakan yang lebih layak.

Bila dikontekstualisasi ke bagian hukum, makulat dapat melandasi norma dengan nilai-nilai dan pertimbangan holistik yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Filsafat juga menjadi pandu pengadil untuk membikin keputusan progresif yang berpihak kepada keadilan, tidak semata kepastian hukum.

Danu Damarjati jurnalis detikcom, pernah sejenak belajar makulat di Bulaksumr; tulisan ini opini pribadi, tidak mewakili lembaga

(mmu/mmu)