Content Marketing: Pengertian, Metode SMART, Referensi dan Strategi

Bagikan

Setiap pemilik bisnis pasti tidak mau kan content marketing yang dibuat menjadi sia-sia? Oleh karena itu, kalian sangat perlu melakukan perhitungan ROI loh! Dengan menghitung ROI, maka kalian akan lebih mudah melakukan evaluasi terhadap performa konten yang kurang bagus. Namun, sebelum terjun lebih dalam membahas content marketing ROI kalian harus tahu cara mengamplifikasikan content marketing yang  efisien dan relevan ya Sobat Bizlab.

Simak penjelasanya di bawah ini yuk!

Apa Itu Content Marketing?

Content Marketing adalah pendekatan marketing secara strategis yang berfokus pada pembuatan dan pendistribusian konten yang relevan dan konsisten untuk menarik dan mempertahankan customer. 

Alih-alih mempromosikan produk atau layanan kalian secara terus menerus, ada baiknya kalian memberikan konten yang benar-benar relevan dan berguna kepada customer kalian untuk membantu memecahkan masalah yang mereka hadapi. Hal ini terbukti lebih berhasil mendatangkan sales dan membantu membangun brand loyalty, loh!

Metode SMART

SMART merupakan kependekan dari Specific, Measurable, Achievable, Relevant dan Timebound. Metode ini muncul pertama kali saat management review di tahun 1981 oleh George T. Doran. Saat ini SMART  digunakan oleh berbagai perusahaan-perusahaan di dunia untuk mencapai tujuan bisnis mereka. Harapannya dengan menggunakan metode SMART dapat lebih terarah untuk mencapai target yang ingin diraih.

Contoh pengaplikasian metode SMART, meliputi:

Spesific/khusus contohnya cara meningkatkan jumlah followers

Measurable/dapat diukur contohnya cara meningkatkan 20% followers di bulan 1

Achievable/dapat dicapai contohnya peningkatan 20% followers karena tahun kemarin targetnya terlalu tinggi sehingga tidak tercapai 

Relevant/sesuai contohnya untuk meningkatkan 20% followers maka dilakukan langkah-langkah misal mengadakan giveaway, mengadakan live streaming dan lain-lain.

Timebound/tenggat waktu contohnya untuk mencapai pertambahan 20% followers di bulan 1 maka kalian harus mulai membreakdown hal yang perlu dilakukan dari sekarang

Content Marketing Berdasarkan Funnel Marketing

Tofu (Top of The Funnel Content Marketing) Funnel: Awareness dan Interest

  • Blog
  • Social Media Updates
  • Infografik
  • Fotografi
  • Digital Magazine/book
  • Audio Podcast
  • Video Podcast
  • Microsite
  • Print Magazine/Newsletter
  • Primary Research

Mofu (Middle of The Funnel Content Marketing) Funnel Desire dan Action

  • Educational Resource
  • Useful Resource
  • Software Download
  • Diskon/kupon
  • Quiz/survey
  • Webinar/events

Bofu (Bottom of The Funnel Content Marketing) Funnel Loyalty

  • Demo/free trial
  • Customer Story
  • Comparison
  • Webinar/event
  • Mini-Class

Referensi Ide Content Marketing di Social Media

  1. Video Course

Seperti namanya, maka konten jenis ini disajikan dalam bentuk video dengan tujuan untuk membantu audiens memecahkan masalahnya melalui informasi yang berisi solusi. Kalian bisa mempublishnya di platform seperti Instagram, Youtube, Twitter, Snapchat, Linkedin dan Facebook.

  1. Live-streaming

Umunya konten jenis ini berbentuk video yang sifatnya untuk berinteraksi dengan audiens kalian. Menurut data yang dilansir Sprout Social, live streaming terbilang 3x lebih engaging dibandingkan dengan video rekaman. Karena dengan menggunkan live-streaming audiens akan lebih bebas berinteraksi dan lebih besar kemungkinan untuk  mendapatkan feedback atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Untuk platformnya sendiri kalian bisa menggunakan Facebook, Instagram, Youtube, Snapchat dan Twitter.

  1. Menanyakan Opini Audiens berdasarkan Permasalahan Tertentu

Kalian bisa mengangkat isu yang sedang hangat dibicarakan ataupun masalah lama yang mungkin kontroversial. Selain itu, kalian bisa juga mengajak audiens berdiskusi tentang suatu masalah. Untuk format konten jenis ini kalian bisa menggunakan video, gambar ataupun teks. Platformnya sendiri kalian bisa menggunakan Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, Snapchat bahkan Linkedin. Dengan metode ini, konten kalian diharapkan akan mendapatkan engagement tinggi dari audiens.

  1. Meme

Mungkin kalian sudah tidak asing lagi ya dengan kemunculan konten meme?

Konten ini biasanya digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu dengan gaya bahasa yang cenderung satir. Istilahnya, untuk mengkritik secara halus tentang topik tertentu. Memang untuk menciptakan meme yang engaging sangatlah tidak mudah karena diperlukan analisis dan kreativitas tinggi. Namun kalian juga loh melakukan ATM( Amati, Tiru dan Modifikasi) konten meme yang viral.

Seperti jenis konten kebanyakan, konten jenis ini bisa kalian publish di platform seperti Instagram, Facebook, Snapchat, Tik Tok ataupun Twitter.

  1. Polling

Konten jenis ini terbukti dapat meningkatkan engagement dari audiens karena dengan konten ini, audiens akan dituntut untuk melakukan interaksi. Kalian bisa menggunakan fitur polling yang sudah disediakan oleh kebanyakan sosial media. Pastikan topik yang kalian angkat adalah topik yang menarik ya agar audiens terpicu untuk mengisi polling tersebut.

  1. Giveaway

Siapa sih yang tidak tertarik dengan Giveaway?

Giveaway terbukti menjadi konten paling banyak diminati oleh audiens ya, Sobat Bizlab!

Namun sebelum membuat konten giveaway, pastikan kalian telah menyusun strategi yang berguna untuk kenaikan KPI kalian ya! Contoh kalian ingin menaikkan followers, maka kalian bisa loh mengaharuskan audiens untuk memfollow akun kalian sebagai salah satu ketentuan wajib giveaway. 

7. Sneak Peek

Konten jenis ini biasanya digunakkan untuk membangkitkan rasa penasaran audiens terhadap produk yang akan dilaunching. Trik ini biasa digunakkan untuk meningkatkan atensi pada produk baru. Kalian bisa menggunakan konten jenis ini di berbagai platform sosial media mulai dari Facebook, Twitter, Linkeidn, Youtube, Snapchat dan lain-lain.

Strategi konten marketing, meliputi:

  1. Menentukan Goals 

Goals akan membantu menetukan siapa, apa, kapan, dimana, kenapa dan bagaimana kalian menentukan konten. Ditambah lagi dengan goals, akan memudahkan kalian dalam menentukan strategi yang akan digunakan, membuat prioritas, merencanakan campaign dengan lebih matang, evaluasi bahkan kemungkinan untuk berkolaborasi dengan pihak lain. 

Terdapat 2 goals yang biasanya digunakan untuk mengukur keberhasilan content marketing, meliputi:

Ongoing measure adalah hasil yang akan diukur secara berkala. Contoh sebuah perusahaan akan mengukur engagement artikel, karena artikel biasanya tidak didasarkan pada waktu sehingga pengukuran dan evaluasi bisa dilakukan kapan saja.

Campaign measure adalah hasil yang akan diukur dengan mempertimbangkan waktu. Contoh sebuah perusahaan mempunyai goals dalam 3 bulan untuk mendapatkan 300 leads. Sehingga untuk mencapainya diperlukan berbagai evaluasi untuk pengoptimalan content marketing dalam 3 bulan.

  1. Membuat Persona 

Setiap bisnis yang dibangun harus didasari pada keinginan konsumen agar bisa mendapatkan target pasar yang jelas. Tanpa ada target pasar yang jelas dan ideal, dipastikan akan sulit untuk mendapatkan customer.

Dalam dunia digital marketing, menciptakan buyer persona menjadi hal yang penting. Buyer persona adalah salah satu strategi yang dilakukan untuk mengidentifikasi keinginan konsumen. Lewat buyer persona, kalian akan semakin mudah untuk menemukan target ideal dari konsumen. Contoh Buyer Persona, yaitu:

http://rubysuramulia.com/cee-p3/
Sumber: Rubysuramulia
  1. Memilih Topik 

Untuk mendapatkan topik yang sesuai, kalian harus melakukan 3 faktor yang meliputi meriew konten yang sudah di publish, menganalisa cara customer memberikan feedback serta meriset persona yang sebelumnya telah kalian buat.

Selain itu, kalian juga dapat mengkategorikan topik menjadi beberapa kategori agar mempermudah decision-making dalam sebuah tim dan membangun hubungan jangka panjang dengan customer. Adapun cara yang biasa digunakan yaitu mempublish konten setiap hari dan sangat dianjurkan agar konten yang dibuat tidak melenceng dari topik yang sedang dibahas.

  1. Memproduksi Konten

Melakukan brand breakdown dimana kalian akan mengaitkan brand kalian ke topik yang general, menyajikan konten yang up-to-date dan menerapkan teknik ATM(Amati Tiru Modifikasi) dari kompetitor. Misal jual kasur bisa juga bahas tentang tidur, bisa juga kalian membahas tentang bantal yang empuk dan lain-lain. Kalian juga harus memperhatikan beberapa elemen konten kreatif meliputi pertanyaan di judul, visualiasasi data dan chart, data yang saling support serta pemilihan warna dan background.

  1. Mengoptimasi Konten

Hal ini dilakukan agar terhindar dari kesalahan yang mungkin terjadi. Untuk melakukannya dapat dilakukan dengan menjalankan hal-hal di bawah ini, yaitu:

a. Memahami Format Konten 

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keterbacaan konten tersebut. Adapun 3 macam strategi konten berdasarkan struktur piramida yang bisa kalian terapkan untuk meningkatkan keterbacaan, meliputi:

Hygiene Content (terkadang disebut Helping Content)

Hygiene content berada di tingkat dasar piramida yang artinya ide untuk konten jenis ini terbilang lebih banyak dari konten jenis lain sehingga sering digunakan. Hygiene content bertujuan untuk mempertahankan upaya promosi agar brand kalian tetap menarik dan selalu diingat oleh audiens. 

Konten ini dirancang untuk secara konsisten ‘menarik’ orang baru ke dalam orbit bisnis kalian. Sehingga jika kalian mempunyai objektif untuk memperluas reach, menaikkan engagement dan menambah followers, konten jenis ini sangat cocok digunakan. 

Contoh: Melakukan Q&A di Instagram, melakukan live streaming lewat Youtube dan lain-lain.

Hub Content

Ketika hygiene content cenderung untuk menarik audiens, hub content justru akan mendorong audiens yang sudah tertarget secara spesifik. Konten jenis ini sangat ideal digunakan untuk menghasilkan conversion. Umumnya, hub content banyak digunakan dengan menonjolkan USP dari produk yang dijual.  

Contoh: Posting blog, targeted promoted post, landing page.

Hero Content

Disaat hygiene dan hub content memiliki kecenderungan untuk membangun interest dan engagement, hero content memiliki efek yang lebih ‘wow’ dari itu. Umumnya, hero content didesain untuk meraup impresi yang lebih luas. Karena kedudukan hero content berada di puncak piramida, mengakibatkan konten jenis ini memerlukan analisis dan kreativitas tinggi dalam pembuatannya.

Contoh: konten viral, seasonal campaign.

b. Menyajikan Valuable Content

Kalian bisa  menyematkan link ke artikel lain atau ke video tutorial agar customer mendapatkan info secara lebih mendetail.

5. Mendistribusikan Konten

Untuk dapat mendistribusikan konten secara efektif, kalian perlu memahami konsep PESO media yang meliputi Paid, Earned, Shared dan Owned media. 

Sumber : Spin Sucks

a. Paid Media 

Sudah tidak asing lagi dengan paid media atau sering disebut advertising platform karena platform jenis ini adalah platform paling sering digunakan terutama untuk menargetkan audiens secara spesifik. Bentuknya pun beragam dan dapat disesuaikan dengan goals dari brand kalian.

b. Earned Media

Earned media yang cenderung berfokus untuk membangun relaSI dengan pihak lain, baik untuk publikasi cetak ataupun online. Tidak hanya itu, earned media dewasa ini juga melibatkan sosial media influencer hingga jurnalis dalam prakteknya. Tidak seperti paid media yang berbayar, earned media sering kali tidak berbayar alias gratis.

c. Shared Media

Banyak orang beranggapan jika shared media termasuk dalam salah satu sektor dari owned media. Kenapa demikian? Karena shared media biasanya didapatkan dari konten yang sebelumnya pernah kalian publish. Dengan shared media, kalian akan lebih mudah untuk melakukan segmentasi audiens dan platform. 

Di banyak kasus owned media, earned media dan paid media dapat menjadi shared media saat orang-orang berpikir koneten yang kalian buat layak untuk disebarluaskan. Sehingga, shared media sangat cocok digunakkan untuk membangun brand awareness, menaikan followers dan bahkan menjangkau customer baru.

d. Owned Media 

Owned media adalah media yang dimiliki suatu brand dan membantu dalam keberhasilan earned, shared dan paid media. Lazimnya owned media berfungsi untuk menyampaikan 85% pesan yang dimiliki brand. Selain itu, owned media juga berfungsi untuk menentukan persona, menargetkan keyword, menentukan jenis konten yang akan kalian buat, memastikan platform untuk publish hingga mengukur performa.

Untuk tools yang dapat kalian gunakan dalam menentukan platform untuk distribusi konten yaitu dengan ahrefs, content explorer, also us, answer the public, buzz sumo, brand and check (trending).

  1. Mempublikasi Konten

Untuk melakukan publikasi terhadap konten, biasanya digunakan 3 framework yang meliputi: 

a. Reaktif mengundang khalayak

b. Seasonal terjadi pada momen tertentu saja

c. Evergreen content tidak memiliki batasan waktu sepanjang masa

  1. Mengukur Keberhasilan

Mengukur seberapa engage konten kalian, dapat dilakukan secara quantity berupa brand mention dan quality berupa mapping out target audiens (apakah pesannya tersampaikan). Pada kali ini, Bizlab akan mengukur keberhasilan content marketing berdasarkan KPI dan ROI.

a. KPI (Key Performance Indicator)

KPI adalah alat ukur yang digunakan untuk mengetahui performa kinerja dan tindakan yang harus dilakukan selanjutnya. KPI biasanya digunakan untuk mencapai sebuah OKR perusahaan. Dalam pengukurannya, KPI biasanya diukur setiap seminggu sekali, dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali. 

Menentukan KPI perusahaan bisa jadi sangat tricky. Adapun untuk mengakalinya, kalian bisa melakukan analisis dengan menggunakan pertanyaan seperti di bawah ini, yaitu:

  • Apa outcome yang kalian/perusahaan inginkan?
  • Kenapa outcome tersebut penting?
  • Bagaimana kalian akan mengukur setiap progres?
  • Apakah outcome tersebut bersifat mutlak atau progresif?
  • Siapa yang bertanggung jawab terhadap outcome?
  • Bagiamna kalian tahu kalau outcome sudah tercapai?
  • Seberapa sering kalian akan melakukan review terhadap setiap progres?

Sebagai contoh, katakanlah objectif yang kalian miliki yaitu untuk meningkatkan sales tahun ini. Atau kalian bisa menyebutnya dengan Sales Growth KPI. Sehingga hal-hal yang harus ada di KPI kalian, meliputi:

  • Meningkatkan sales sebesar 20% tahun ini
  • Mencapai target di atas akan membauta bisnis menjadi lebih untung
  • Dengan menambah pegawai di bidang sales yang nantinya akan bertugas untuk melakukan promosi kepada pembeli yang sebelumnya sudah melakukan pembelian.

Website blog

  • Website traffic
  • Unique visitors
  • New vs returning visitors
  • Time on site
  • Avg time on page
  • Bounce rate
  • Exit rate
  • Page views
  • Page views per visit
  • Traffic source
  • Geographic
  • Mobile visitors

Email

  • Open rate
  • Conversion rate
  • Opt-out rate
  • Subscribers
  • Churn rate
  • CTR
  • Delivery rate

Social media

  • Amplification rate
  • Applause rate
  • Followers
  • Conversion rate
  • Landing Page conversion rate
  • Return of Engagement
  • Post reach

Youtube/Video Post

  • Views
  • Unique viewers
  • Average view
  • Subscribers
  • Impression (CTR)
  • CTA
  • Shares
  • Comments
  • Traffic source

Podcast

  • Subscribers
  • Download
  • Social share
  • Rating/review

PPC campaign

  • CPC
  • CTR
  • AD position
  • ROAS
  • CPC
  • Conversion rate 
  • Conversion 

b. ROI(Return Of Investment)

Digunakkan untuk mengukur keefektifan content marketing yang sedang atau sudah dijalankan. ROI adalah metrik yang paling sering digunakkan karena keefektifan dan kemudahan yang ditawarkan. Pada dasarnya, ROI biasa digunakkan sebagai ukuran dasar untuk mengukur keuntungan dari sebuah investasi. Seperti contohnya ROI digunakkan untuk mengukur keefektifan investasi saham atau bahkan investasi real estate.

Dalam perhitungan, ROI terbilang cukup mudah dan sangat mungkin diaplikasikan di berbagai macam perusahaan. Jika investasi mendapatkan ROI yang positif itu tandanya investasi yang dijalankan terbilang efektif dan menguntungkan, namun jika sebaliknya maka dapat dikatakan jika investasi yang dilakukan terbilang tidak optimal untuk dilakukan kembali sehingga biasanya perusahaan akan melakukan evaluasi terhadap investasi tersebut.

Cara menghitungnya yaitu :

ROI =Net profit (sales revenue-marketing cost)marketing costx 100%

Adapun 3 unsur yang harus ada dalam perhitungan yaitu:

  • Cost (biaya yang dikeluarkan)
  • Conversion rate (CR lead=lead/prospect dan CR sales=sales/prospect)
  • Revenue (keuntungan)

Contoh soal:

Diketahui:

Cost  Rp. 20.000

Harga Produk Rp. 300

Prospect 200.000

CR 4% prospect to lead (CR lead)

CR 5% lead to sales (CR sales)

Ditanya:

Berapa ROI nya?

Jawab:

Lead= ProspectxCR lead= 200.000×4%=8.000 lead

Sales= Lead x CR sales =8.000 lead x5%=400 unit

Revenue= Harga produk x Sales = Rp. 300 x 400=Rp.120.000

ROI =Net profit (sales revenue-marketing cost)/marketing costx 100%

= Rp. 120.000-Rp.20.000/Rp. 20.000x 100%

Rp. 100.000xRp.20.000x 100% =500%

Nah, itu adalah beberapa amplifikasi content marketing berupa pengertian, metode, referensi strategi dan yang dapat kalian terapkan di konten kalian. Selamat mencoba! 

Bizlab adalah marketplace untuk belajar skill profesional yang sedang dibutuhkan di berbagai sektor industri saat ini. Kunjungi situs https://subsdaily.com/ untuk mengikuti konten pendek favorit (micro-content) mengenai up-skill yang akan dikirim via WhatsApp atau Email pribadimu.

Yuk, tunggu apalagi?, Kembangkan kemampuanmu dan klik link nya, ya!

Sumber:

  1. Rubysuramulia.com
  2. Spin Sucks

Leave a Reply